Perjalanan Kelas Menulis Online Bersama Gol A Gong

Jika serius ingin jadi penulis, ada tiga tahap Kelas Menulis bersama Gol A Gong yang harus dilewati. Ketiga tahapan itu antara lain :

Tahap pertama :
KELAS MENULIS CERPEN DINAMIS

Untuk 20 orang, biaya lima puluh ribu, 1 kali pertemuan, tiga jam. Boleh bikin group sendiri. Selama Juni 2020 sudah dibuka 7 angkatan.

Tahap kedua :
CERITA PENDEK BERTABUR KONFLIK

Dibuka mulai Juli 2020. Kelas 20 orang. Biaya Rp 50 ribu. Sekali pertemuan, 3 jam. Waktu silakan diatur sendiri.

Tahap ketiga :
MENULIS NOVEL BEST SELLER

Kelas Menulis Novel Best Seller untuk Juli 2020. Sudah ada 4 orang. Setiap kelas novel best seller hanya 5 orang. Biaya Rp. 500 ribu/orang untuk 4 kali pertemuan, setiap minggu. Dua jam sekali pertemuan. Kalau privat sendiri biaya Rp. 2,5 jt. Di pertemuan keempat para peserta – insya Allah sudah bisa menulis draft pertama novel.

Silakan yang mau gabung, daftar ke Tias Tatanka 081906311007.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Belajar Membuat Dialog Tokoh dari Pohon Pisang dan Generasi Instan

Jadi penulis itu harus terus berpikir. Naluri mengamati jangan sampai mati. Setiap hari kita sering disuguhi fenomena hidup. Misalnya, amati pohon pisang. Semua yang ada bermanfaat; mulai dari daun, batang pohon, kulitnya, buahnya, semuanya. Kemudian belajarlah membandingkannya atau menganalogikannya dengan manusia.

Saya memotret generasi sekarang adalah generasi instans, generasi yang ingin meraih sukses dengan cara cepat. Di dalam otak saya, kemudian dicampur dengan imajinasi, saya memutuskan membuat puisi yang idenya dari “pohon pisang dan generasi instan”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cerpen: Suara Bilal

Karya Gol A Gong

Nasrul bangkit. Hati-hati dia melangkahi beberapa tubuh yang hanya bercelana pendek saja. Kamar kontrakan yang berukuran 3 kali 3 meter ini diisi lima orang. Dibukanya pintu. Udara subuh membuat kamar kontrakan yang pengap terasa sejuk.

“Nyamuk, Rul, tutup lagi,” Iman menggeliat dan menggeser tubuhnya ke dekat dinding, tempat dimana tadi Nasrul tidur.

“Sudah subuh….”

“Iya. ‘Ntar aku nyusul….”

“Aku ke mesjid ya…,” Nasrul menjumput sarung poleng yang tergantung di dinding.

Iman tidak menjawab. 

Nasrul keluar kamar. Menutup pintu. Dia menuju tali jemuran. Kaos yang tadi sore dicuci diambilnya. Didekap dan diciumnya.  Lalu dipakainya. Sebetulnya belum kering benar, tapi justru membuat tubuhnya merasa sejuk.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5