Penulis Harus Membuka Pikiran dan Hatinya

Kalau ingin berkembang maju, orang yang mengkritik kita sepahit apa pun jangan kita balas dengan caci-maki apalagi dengan menyakiti perasaannya. Terima dengan hati terbuka. Itu adalah nasihat Bapak dan Emak kepada saya.

Begini ceritanya, Kawan. Suatu hari saya pernah menulis novel Islami, yang kemudian best seller dan disinetronkan. Tiba-tiba di sebuah seminar di luar Jawa, ada seorang peserta mengacungkan jari. Terjadi dialog seperti ini:

“Gol A Gong, daripada saya membaca novel Anda yang sampah itu, lebih baik saya membaca Al Qur’an.”

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

2 Replies to “Penulis Harus Membuka Pikiran dan Hatinya”

  1. Saya keseringan ke sekolah binaan membimbing guru. Tapi, ada yang merasa tak enak kehadiran saya di sekolah itu. Ketidakenaan dipostingnya di FB, tersinggungkah ? Pingin sih begitu, tak mampu, akhirnya abaikan saja. Ternyata rasa syiriknya saja, pengawas sekolahnya tidak se kreatif saya.Ha…ha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *