Hey, Penculik Anak! Kamukah Itu?

Saya baru bisa menyimpulkan setelah membacai 6 cerpen yang lolos seleksi. Para penulis belum memasuki wilayah penulisan fiksi sesungguhnya, bahwa menulis fiksi itu adalah “proses menjadi orang lain”. Jika kita riset tentang “penculikan anak” di Google, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima banyak laporan tentang kasus dugaan penculikan dan perdagangan orang, khususnya anak-anak. Jika dirunut ke belakang, pengaduan yang menyangkut korban anak memang tidak sedikit.

Saya melakukan riset tentang kasus penculikan anak. Jawapos.com menulis, sepanjang tahun 2019 tercatat 244 kasus dengan jumlah tertinggi adalah anak korban eksploitasi seksual komersial (71 kasus). Lalu, anak korban prostitusi (64 kasus), anak korban perdagangan (56 kasus), dan anak korban pekerja (53 kasus). Ketua KPAI Susanto mengingatkan para orang tua bahwa modus penculikan kini semakin beragam. ’’Orang tua, guru, dan masyarakat harus peka dengan gerak-gerik orang di sekitar,’’ katanya kemarin (9/2).

Dari persyaratan yang ditentukan panitia 30HM-NAD, sebetulnya sudah disediakan “panduan” di dalam persayaratan lomba seperti untuk unsur tokoh ada tokoh utama bersama temannya, teman yang diculik, tokoh dua penculik. Unsur setting lokasi ada sekolah dan jalanan. Alur ceritanya tokoh utama melihat temannya diculik dua orang berpakaian hitam. Endingnya panitia tidak memutuskan kepada penulis, apakah tokoh utama berhasil menyelamatkan temannya.

 Nah, para penulis juga bebas memilih POV jadi penculik, orang tua si anak, atau si anak sendiri. Tapi saya merasa, karena tema H-22 ini diserta dengan “premis” tadi, sehingga keenam peserta “terbelenggu” dan seolah berjarak dengan para tokoh.

Saya tidak tahu apakah para penulis melakukan riset atau tidak. Tapi terasa betul tema “penculikan anak” sekadar tempelan karena terbelenggu oleh peryaratan tadi. Berbeda dengan tema sebelumnya yang saya baca dengan tema “tersesat di hutan”, para penulis mengeksplorasi tema itu menjadi cerpen yang bervariatif.

Akhirnya para penulis menghabiskan satu halaman dengan dialog para tokoh yang tidak berguna. Alur cerita jadi lambat dan karakter tokohnya tidak jelas. Para tokohnya hanya “melihat orang diculik” kemudian berusaha membebaskan si anak. Itu sesuai dengan arahan panitia.  Persyaratan itu jadi boomerang, membuat para penulis tidak mampu mengekslorasi.

Saya mengulas satu cerpen berjudul  Kisah Lain Buto Ijo. Penulisnya menyisipkan “mitos”. Alur ceritanya maju-mundur.

Diawali di babak satu dengan si Mbah yang bercerita kepada 3 cucunya tentang “Buto Ijo” di rumah. Si Mbah mengaku pernah bertemu dengan Buto Ijo saat kecil.

Penulis mengubah POV dari si Mbah ke tokoh “aku” (si mbah kecil) di babak kedua. Perpindahan POV masih bisa dimaklumi karena alur cerita “Si Mbah menceritakan dirinya saat kecil”. Juga latar tempat ke sekolah dan hutan dan waktunya berpindah saat si Mbah kelas 3 SD(sesuai arahan panitia). Menarik. Si Mbah sedang bercerita kepada cucu-cucunya tentang penculikan di sat masih seusia mereka. Si Mbah memergoki penculikan  anak bersama kedua teman kecilnya. Tetapi para penculik justru memergokinya juga. Si Mbah dkk ditangkap. Dipa – teman si Mbah malah dilempar sehingga pingsan membentur pohon dengan luka berdarah di kening. Tapi saat si Mbah kecil dan temannya disekap, tiba-tiba datang Buto Ijo dengan kening berdarah menyelamatkan mereka.

 Alur cerita kembali ke masa kini di babak 3 ini saat si Mbah bercerita kepada cucu-cucunya. Di sini kemudian si penulis memasukkan mitos. Dan endingnya seperti film-film Hollywood, “fiksi di dalam fiksi”. Saya tidak menyebut ini “plothole” (logika cerita yang lemah). Si penulis lewat tokoh Si Mbah membuat alur cerita Dipa yang saat itu diceritakan dilempar ke pohon oleh penculik dan pingsan dengan kening berdarah. Kemudian dihubungkan dengan kehadiran buto ijo menyelamatkan si Mbah dan Wulan. Buto Ijo mengusir para penculik dan si Mbah melihat kening buto ijo terluka.

Tentu pembaca akan menghubungkan dengan Dipa yang tadi terluka dan pingsan dilmpar si penculik ke pohon. Saya jadi terbayang Hulk yang awalnya seorang dokter akan berubah jadi raksasa jika dipancing kemarahannya.

Penulis belum selesai. Dia menghubungkan pula luka codet di kening Dipa, buto Ijo dengan Raja – cucunya! Apakah nanti Raja akan berubah jadi Hulk eh buto ijo?

Dalam teknik menulis dan bercerita, penulis cerpen “Kisah Lain Buto Ijo” saya tebak sudah berpengalaman. Dia mahir memindahkan POV. Saat narasi juga penggunaan bahasanya juga baik. Alur ceritanya termasuk kuat, hanya saja tadi si penulis berimprovisasi “bahwa fiksi itu bebas berimajinasi”.

Cerpen kedua berjudul Adikku Sayang Adikku Malang . Ide ceritanya menarik.

Seorang paman Rusli ingin menyatukan Gita dengan adiknya yang cacat Doni. Caranya Rusli jadi penculik Doni saat pulang sekolah (sesuai arahan panitia). Tentu Gita yang tadinya tidak mau mengakui Doni sebagai adiknya karena cacat,  jadi penyelamat. Di situlah Gita jadi sayang kepada Doni.  Strategi paman Rusli menyatukan Gita dan Doni berhasil setelah berpura-pura jadi penculik.

Keempat cerpen lainnya bagi saya lemah. Sulit untuk bisa dikatakan bagus. Saya rasa nanti-nanti panitia 30HM-NAD tidak perlu menggunakan persyaratan seperti “premis” atau “alur cerita” yang sudah ditentukan, sehingga menyebabkan para peserta lomba tidak mampu mengembangkan cerpennya.

Saya tidak tahu, apakah target pembaca dari tema “penculikan anak” ini diperuntukan untuk anak-anak? Jika untuk pembaca umum, tentu belum mencukupi.

Akhir kata, upaya mengampanyekan literasi baca-tulis di NAD sudah sangat luar biasa. Tentu perbaikan di persyaratan atau ketentuan lomba harus dilakukan. Jangan kaget jika dari komunitas di group FB ini bisa bermunculan penulis-penulis handal di masa depan. Tetap semangat. (Gol A Gong/Foto Boombastis.com)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)