Sebelum Filmnya, Kaosnya Dulu!

Sore tadi, Sabtu 11 Juli 2020, saya berbincang-bincang dengan Fajar Nugros – Susanti Dewi. Mereka siap memfilmkan Balada Si Roy antara Desember 2020 – Februari 2021. Selain terkendala Covid-19, juga para pemainnya masih terikat kontrak. Doakan, ya! Semoga kali ini Allah memudahkan rencana ini.

Nah, sebelum filmnya, ayo, siap-siap kaosnya. Ada puisi yang ditulis Gol A Gong tentang “lelaki harus pulang”. Pemesanan ke WA Jordy Alghifari 0812 1337 7868. Harga Rp. 125 ribu, belum ongkos kirim. Seperti biasa, keuntungannya untuk mensubsidi Rumah Dunia.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Penulis dan Ruang Kerja Penuh Buku

Urusan dengan rayap di ruang kerja baru selesai Senin siang 5 Juli 2020. Sekitar 4 hari mengakalinya. Lubang-lubang eayap saya siram dengan oli, agar rayap tidak merangsek naik memakan rak kayu dan buku. Semoga ada rezeki membeli lagi rak besi.

Nah, jika kamu punya teman mengaku penulis tapi tidak punya perpustakaan pribadi atau ruang kerja yang dipenuhi buku, hehehehe…, perlu kita curigai. Berarti dia tidak akan memiliki umur panjang dalam karir kepenulisannya, karena ruang kerja penuh buku bagi penulis sama saja dengan riset pustaka.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Tentang Nama Tokoh dan Setting Lokasi Dalam Cerpen-cerpen 30 Hari Menulis

 Saya acungkan jempol kepada Komunitas “Nulis Aja Dulu”, yang dengan brilliant menyodorkan tema “Tubin”. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia “tubin” berarti “empat hari ke depan”. Mungkin selama ini kita lebih sering mengatakan “lusa” atau “minggu depan”. Akibatnya justru positif, tema “aneh” itu membuat para peserta “30 Hari Menulis” kreatif dalam menyusun alur cerita. Saya sendiri belum tentu berhasil menulisnya.

Sebelum saya mengulas cerpen-cerpennya, saya ingin membagikan pengalaman saya dalam menulis cerpen. Tahap pertama yang saya lakukan adalah riset (lapangan dan pustaka) menggunakan 5 W plus 1 H. Fase kedua, sebelum menuliskan cerpenya, peristiwa atau fakta itu saya endapkan dulu, lalu saya olah dengan imajinasi menggunakan unsur intrinsik. Terakhir, swa sunting. Kelemahan saya itu di kelima jari saya yang mengalami “disleksia” alias sering typo dan sering “mengabaikan kaidah bahasa” (lisensi puitika). Saya menulis menggunakan rasa, sehingga “jeda” sangat saya utamakan. Saya sesukanya saja menyimpan koma atau titik. Kadang kata sambung saya letakkan di depan.

***

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5