Bonus Atlet Peraih Medali Emas Harus Besar, agar di Hari Tua Tidak Sengsara

Itu sebab kemudia saya memutuskan jadi penulis pada 1988. Kebiasaan membaca saya jadi solusi terbaik dan menyelamatkan hidup saya. Profesi menulis sangat tidak diskriminatif. Profesi menulis itu mengandalkan otak, bukan sekadar otot seperti halnya di olahraga. Jadi siapa saja boleh jadi penulis.

Saya sudah menulis 125 buku, rausan skenario sinetron TV, talk show

Saya bekerja keras untuk bisa menjadi “Gol A Gong”. Saya berkompetisi dengan para penulis lain seperti Emji Alif, Harry Tjahyono, Eddy D. Iskandar, Mira W, Marga T, Teguh Esha, Leila S. Chudori, dan Hilman Lupus, – karya mereka sudah malang-melintang di majalah-majalah. Novel serial saya yang berjudul “Balada Si Roy” ditayangkan di Majalah HAI (1988) dan dibukukan Gramedia (1989).

Saya bekerja di Kelompok Kompas Gramedia (1989 – 1992), Indosiar (1995), RCTI (1996-2008), dan Banten TV (2008-2010). Kebiasaan berolahraga membantu saya dalam memiliki semangat menulis. Tubuh yang sehat itu sangat penting dalam menunjang profesi menulis. 34 tahun menggeluti literasi baca-tulis bukan wakitu sebentar. Membangun Rumah Dunia di Serang-Banten, jadi Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat, Instruktur Literasi Nasional, Dewan Pembina Forum Lingkar Pena, dan kini sjak 30 April diamanahi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia meneruskan perjuangan Najwa Shihab sebagai Duta baca Indonesia 2021-2025.

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)