Dunia Tidak Seluas Smartphone!

Betapa penuh perjuangan hidup mereka! Zaman begitu keras menempa mereka. Selain era digital yang penuh ranjau, juga 2 tahun terakhir ini pandemi Covid-19 ibarat malaikat Izroil – siap mengirim mereka ke pekuburan! Pertanyaannya: apakah digitalsasi membawa berkah untuk mereka?

ADAFTIF

Saat saya seusia mereka di tahun 1980-an, betapa cerianya dan penuh bunga! Ya penuh bunga! Di usia mereka, kami tidak pernah takut dengan perundungan yang entah siapa pelakunya karena dilakukan dengan smarphone di dunia maya. Jika ada yang menghina, kami bisa langsung tahu dan meminta pertanggungjawaban! Hal lumrah terjadi saat kami remaja, berkompetisi prestasi! Kami juga tidak pernah pergi ke sekolah menggunakan masker karena pandemic Coid-19 mengintai sehingga bisa melihat lawan jenis yang cantik dan ganteng.

            Saya ingat pepatah lama, bahwa “orang sukses bukan karena dia pintar, kaya, atau terhormat tapi dia yang mampu beradaptasi dengan zaman”. Begitulah yang terjadi kepada saya walaupun canggung. Paling dahsat adalah dimana semua yang serba tercetak, audio, hingga video dialihwahanakan menjadi digital. Saya merasa sangat beruntung masih diberi kesempatan oleh Allah SWT mengalaminya.

             Saya juga merasakan apa yang terjadi di buku ini. Para pelajar SMAN 2 Banjar mencoba beradaptasi dengan era digital; mereka harus mampu menangkal informasi yang bisa saja hoaks! Mereka sadar betul bahwa “digitalisasi” sedang membelit mereka dan “seolah pisau bermata dua”. Jika lengah jadi alat pembunuh, jika kreatif jadi mesin uang.

            Saya memahami betul bagaimana gejolak jiwa mereka. Jika tidak memiliki HP tercanggih, pasti diledek teman-temannya. Atau quota habis, jadi bahan tertawaan. Mereka harus memilih, apakah menjadi tawanan teknologi atau yang mengendalikannya.

BONUS DEMOGRAFI

Saya membayangkan hidup para pelajar SMAN 2 Banjar (seumur juga dengan anak ketiga dan keempat saya) berada di persimpangan. Salah mengambil jalan, tinggal menunggu kehancurannya. Apalagi bonus demografi sudah di depan mata – tinggal 8 tahun lagi menuju 2030. Indonesia berada di depan karena diuntungkan sebagai negara dengan SDM melimpah di usia produktif – yaitu 15 hingga 65 tahun. Investor dari negara maju (yang kekurangan SDM produktif) akan berdatangan ke Indonesia menanamkan modal dan menawarkan berbagai macam peluang. Negara-negara yang sekarang (2021) termasuk negara maju dan kaya pada 2030 kekurangan SDM di usia produktif.

Jika saat ini para pelajar hanya menggunakan smartphone untuk bersenang-senang, siap-siaplah jadi tamu di rumah sendiri! Di 2030, para pelajar SMN 2 Banjar yang sekarang menulis buku ini akan gigit jari. Kalah bersaing dengan sesame negara ASEAN!

Ingat, wahai anak muda! Dunia tidak seluas kotak smartphne! Pergilah ke perpustakaan di sekolah atau kotamu! Bacalah! Bertualanglah dengan buku-buku yang berjejer di rak-rak! Itulah pentingnya guru inspiratif seperti Saeful Hadi, yang menginisiasi penulisan dan penerbitan buku ini. Bagi saya, buku ini ibarat petualangan gagasan atau pikiran mereka.   

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)