Bajak Laut, Bajak Sawah, Buku Bajakan

Kini saya duduk gelisah. Kawan-kawan sesama penulis mengabarkan tentang Tere Liye yang marah-marah kepada para pembajak buku dan mengkategorikan pembeli buku bajakan itu “goblok”. Eka Kurniawan juga memrotes. Kurnia Effendi dan masih banyak lagi. Di tahun 90-an, ketika Tere dan Eka masih jadi pembaca, buku-buku saya juga dibajak. Belum ada internet, sehingga saya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menulis buku yang baru.

Kemudian apa yang harus saya lakukan sebagai Duta Baca Indonesia? Ya, menulis.

Sudah 4 hari saya membagi-bagikan buku motivasi “Gigih” (Republika) karya Diday Tea alias Dedy M Sugiharto dan novel Balada SiRoy karya saya kepada orang-orang yang berkunjung ke stand Rumah Dunia sambil menghimbau jangan membeli buku bajakan. Ini seperti gerakan “mengganggu”. Anda membajak buku, saya membagikan buku secara gratis. Moral combat.

Saya juga menyaksikan bagaimana warga Banten membelanjakan uangnya di Festival Hari Buku Nasional, yang digagas IKAPI Pusat dan Banten. Lokasi di auditorium Untirta Banten, kampus baru Sindangsari, Pabuaran, Kabupaten Serang, tidak membuat patah semangat. Mereka berdatangan dari pelosok Banten, bahkan dari Lampung, Jakarta, Bekasi, dan Bogor.

Mereka rata-rata membeli buku yang diskonnya gila-gilaan di zona kalap. Tapi di zona diskon hingga 25% juga ramai. Orang-orang mengantre. Pemandangan di depan saya ini seolah-olah sedang ada perlawanan terhadap fenomena buku bajakan di toko online.

Sementara itu selain fenomena buku bajakan, kita juga dihadapkan pada fenomena rendahnya minat baca orang Indonesia. Menurut UNICEF, dari 1000 orang Indonesia hanya 1 yang membaca. Atau PISA (2016) meneliti kemampuan membaca, matematika, dan science pelajar Indonesia di urutan ke 60, satu tingkat dari negara Wakanda di urutan 62.

Saya akan membahasnya. Antara minat baca yang rendah dengan buku bajakan itu terjadi tarik-menarik.

Anda percaya minat baca orang Indonesia rendah? Saya: tidak! Saya hampir setiap hari berada di lapangan. Saya menemukan jawabannya. Ternyata lebih kepada sulitnya mengakses buku-buku. Di Indonesia tersebar belasan ribu taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, komunitas literasi dimana koleksi buku mereka tidak variatif. Terutama di Indonesia Timur. Forum TBM, 1001Buku, dan Pustaka Bergerak mencoba mencarikan solusi dengan membagi-bagikan buku secara gratis. Maman Suherman secara pribadi – bekerja bersama jasa pengiriman JNE – mengirimkan buku-buku ke NTT dan Papua.

Anda percaya orang Indonesia senang membeli buku bajakan? Saya: tidak. Saya lebih mempercayai, jika orang-orang lebih memilih buku yang harganya murah. Kenapa harus membeli yang mahal, jika ada yang murah? Fenomena itu sering kita jumpai di mana-mana. Jika ada pesta diskon gila-gilaan seperti di Festival Hari Buku Nasional ini, orang-orang menyerbu.

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)