Berkunjung ke Rumah Pesut di Sungai Mahakam Bersama Gol A Gong

Sebelumnya Mas Amien Wangsitalaja, Sastrawan senior pengampu Jaring Penulis Kaltim (JPK), bertanya apakah bisa ikut mengantar ke Pela. Mereka datang ke Kota Bangun beserta rombongan JPK. Ada juga petinggi Dewan Kesenian Kaltim, Komunitas Buku Etam, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca di Kaltim dan orang-orang penting bagi literasi Kaltim.

Saya tiba di Kota Bangun, Kamis tengah malam. Mengambil cuti di hari Jumat. Sesempatnya meminta bantuan istri–perempuan paling cantik di RT 10 Dusun Tanah Pindah menyiapkan kudapan untuk Jumat siang. Mas Amien mengabarkan rombongan sudah makan di Tenggarong. Kami memasak lontong sayur Kutai dibantu mertua. Porsinya dijadikan porsi kudapan.

Di kesempatan berharga, saya semencarinya buku-buku karya Gol A Gong yang ada di rumah. Tentu untuk ditandatangani penulisnya. Yg saya temukan, yakni Balada Si Roy seri Blue Ransel-Solidarnos dan Pasukan Matahari. Seri lain saya lupa naruhnya, entah selain di rak buku, beberapa buku masih dalam doz. Kang Gol A Gong bersyukur dan mungkin gak menyangka di seluk Mahakam ini bukunya sampai di sini. Dibaca dan membawa pengaruhnya sendiri.

Saya dulunya membaca Balada Si Roy dari kios penyewaan buku di dekat SMA 2 Samarinda. Lulus sekolah, lalu sering melakukan perjalanan jauh dengan menumpang bak-bak mobil terbuka, dan truk. Ngompreng dari satu mobil ke mobil lain. Entah dipengaruhi atau tidak, buku2 Gol A Gong banyak menginspirasi banyak penjelajah dan banyak pelaku backpacker.

Sehabis membantu istri sekenanya membereskan piring, saya ijin mengantar grup itu ke Pela. Menginap di sana. Saya belum pernah nginap di Pela. Maklum rumah kami sepelemparan dua batu dari Pela. Paling saya dan istri hanya jalan-jalan sore ke sana.

Alimin, ketua Pokdarwis di sana menyambut kami dengan baik, menyinggahkan perahu untuk saya agar bisa ikut menikmati matahari terbenam yang megah di Danau Semayang. Ia juga membina warga sekitar untuk menyediakan homestay bagi wisatawan, menyediakan makan malam dan pagi dengan menu ikan yang enak-enak, serta mengelola museum nelayan satu-satunya di Indonesia.

“Beuh, Mun gubernur aja kalah, belum pernah gubernur etam diwawancarai Kick Andy, ” kataku ke Alimin.

Hujan turun sehabis magrib. Malam itu agenda dilanjutkan dengan kongkow sembari ada materi travel writing dari Kang Gol A Gong. Juga penjelasan mengenai danau-danau di cascade Mahakam oleh pak Mislan, peneliti danau dan Mahakam.

Saya sempet kepikiran, soal travel writing ini. Saya tidak tahu, apakah anggota Imapa Unmul yg baru, saat ini masih ada yang membaca Gol A Gong, atau buku-buku lain. Karl May, atau perjalanan sepeda motornya Ernesto Guevara, buku-buku Soe Hok Gie, atau petualangan Norman Edwin, buku-buku Agustinus Wibowo, juga Naked Traveller. Buku-buku yang membuat perjalanan dan petualangan mereka lebih punya nuansa, lebih ada romantismenya.

Chai Siswandi paing kanan

Atau apakah mereka dikenalkan buku-buku Pram, Tan Malaka, atau Andrea Hirata? Buku-buku agar punya sikap, keberanian atau juga mimpi-mimpi. Walau, pada akhirnya karena punya pilihan sikap dan mimpi orang bisa jadi menyebalkan. Mau gimana lagi? Apakah mereka masih diajarkan jurnalistik perjalanan, banyak seniornya yang jadi jurnalis di media-media utama Kaltim.

Subuh-subuh kami berburu perjumpaan dengan pesut. Melihat matahari terbit di muara desa.

Chai Siswandi paling kiri, bertamu ke rumah pesut

“Pesut, pesut kami bertandang ke rumahmu
Pesut, pesut ijinkan kami berjumpa denganmu,” kang Gol A Gong merapal mantranya sendiri untuk berjumpa pesut.

Gol A Gong memanggili pesut Mahakam

Kami tak berjumpa pesut pagi itu. Tapi ada kesadaran bahwa masih melihat matahari terbit pagi itu dengan anggunnya. Ada kesyukuran atas kehidupan dan kesempatan, berjumpa kawan-kawan. Di tempat yang terjaga, seindah Pela.

Semoga kelak berjumpa pula.~

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)