Catatan kecil dari pentas Sastra Reboan

Format kegiatan dibagi dalam dua sesi:

Pembaca sajak-sajak tentang Chairil Anwar yang menampilkan para penyair: Jose Rizal Manua, Ical Vrigar, Nanang, Ribut Supriyatin, Bontot Sukandar, Riri Satria, Dewi Maharani Soetego, Herman Syahara, Yahya Andi Saputra, Ridwan Fauzi.

Pengendali Acara: Dyah Kencono Puspito Dewi

Diskusi Membaca Jejak Chairil
bersama:
Sutardji Calzoum
Hasan Aspahani

Pemandu: Jodhi Yudono

Disebut Sastra Reboan is Back, karena forum temu sastrawan rutin ini biasanya diadakan di Warung Prestasi di Bulungan. Karena terkendal COVID-19 dihentikan sementara, dan baru diadakan lagi kemarin di Pusat Data Sastra HB Jassin di lingkungan TIM.

Yang membahagiakan saya, setelah 22 tahun baru berkesempatan lagi ke TIM, adalah bisa bertemu dengan para dedengkot sastra tanah air, bahkan ada pula Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Chalzoum Bachri, yang kemarin secara spontan mengaku sebagai kakaknya Republik ini. Saya sangat menikmati perbincangan dengan mereka, juga sajian-sajian pembacaan sajak mereka.

Segala hal tentang Chairil Anwar dibahas di sana, mulai dari musikalisasi puisi-puisinya, puisi-puisi tribut kepadanya, dan sisi-sisi lain kehidupannya. Oleh SCB, dikatakan bahwa Chairil adalah murid atau anak kandung ideologis Sutan Takdir Alisjahbana, yang oleh STA sendiri malah tak diakui. Ini unik, kan? Sementara Hasan Aspahani membahas bagaimana latar belakang dan pergulatan batin serta kegelisahan intelektual Chairil tentang kebudayaan Indonesia. Di sisi lain, Chairil juga harus bergelut dengan kemiskinan dan penyakit yang menggerogotinya.

Saya mencatat, SCB menilai Chairil berdasarkan pengamatan sebagai sesama penyair beda angkatan. Chairil lahir tahun 1922, sedang SCB tajun 1941. Sementara Hasan Aspahani berdasarkan riset dari berbagai sumber valid dan sahih, terutama berdasarkan apa yang dilakukan oleh HN Jassin. Jassinlah yang dianggap ‘menemukan’ Chairil Anwar. Ini juga unik, mengingat HB Jassin yang pada saat itu notabene adakah Sekretaris STA, dia yang begitu yakin, bahwa Chairil Anwar adalah tonggak baru dunia sastra Indonesia di masa itu setelah Angkatan Pujangga Baru.

Satu hal lagi yang saya tangkap dari uraian Hasan Aspahani adalah bahwasanya Chairil Anwar merupakan mata kanan puisi Indonesia, sedang Sutardji Chalzoum Bachri adalah Mata kirinya. Alasannya adalah bahwa CA sangat menekankan presisi pemilihan kata, sedangkan SCB justru membebaskan kata-kata dari ‘kungkungan’ aturan.

Demikian, kurang lebih.

Armakalaya
14 Juli 2022

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

2 Balasan untuk “Catatan kecil dari pentas Sastra Reboan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)