Cerita Emak di Meja Makan tentang Banten kepada Istriku

Cerita Emak kepada istriku di meja makan “Suatu hari ada lurah datang bawa golok ke sekolah. Dia marah, karena anaknya tidak naik kelas. Kata lurah itu, saya ini pejabat. Banyak tamu penting datang ke rumah. Bagaimana nanti kalau ada bupati datang ke rumah dan dia tahu anak saya tidak naik kelas?”

Emak tersenyum. Di Banten dikenal para lelakinya sebagai jagoan atau istilahnya “jawara”. Lalu sudah umum istilah “sadigo” alias “salah dikit golok” di masyarakat. Pokoknya, jangan cari masalah dengan jawara. Dan itu dideklarasikan secara luas, seolah jadi teror bagi masyarakat.

Emak bercerita bagaimana caranya mengatasi lurah yang sedang marah itu. Emak mempersilakan lurah itu duduk, disuguhi minum. Kata Emak kepada lurah itu, “Lebih malu mana, kalau bupati itu meminta putri Bapak memasak, lalu masakan anak Bapak tidak enak? Misalnya sayur asem rasanya kok manis? Ayo, malu mana?”

Alhamdulillah, kata Emak, lurah itu paham dan meminta tahun depan anaknya dibimbing agar pintar dan jadi perempuan yang pandai memasak. “Insya Allah, kami akan membimbing putri Bapak. Tapi Bapak juga harus membimbing anak Bapak di rumah. Pendidikan anak itu jangan dibebankan semuanya kepada guru. Orangtua juga harus berperan di rumah,” begitu kata Emak.

Setelah itu, kata Emak lagi, setiap musim duren, lurah itu selalu mengirim duren. Saya sudah sering mendengar cerita seperti ini dari Emak. Apalagi versi Bapak, yang juga kepala sekolah SGO PGRI di Serang, lebih sering dan lebih konfrontatif. Saya rasa, hampir semua teman-teman saya yang orangtuanya guru di Banten mengalaminya: SADIGO – salah dikit golok.

Saya pernah menyaksikan, teman saya sesama pelajar di SMAN 1 Serang, mengamuk bawa golok di dalam kelas karena tidak naik kelas. Untung ada seorang guru yang memiliki ilmu bela diri. Akhirnya murid itu bisa ditaklukkan tanpa pertumpahan darah.

Bahkan saya pun mengalaminya. Beberapa teman saya juga, terutama orang-orang yang kritis dan vocal terhadap kinerja pejabat di Banten yang cenderung korup. Bahkan di era Banten jadi provinsi dan modern ini juga, ketika ekonomi dan politik bersinggungan, semakin merajalela. Awas, kamu! Sadigo – salah dikit golok.

Sekarang di usianya yang ke 80, Emak mengenangnya sebagai sesuatu yang indah. Di Banten, jadi perempuan pemimpin di era 70-an, sangat tidak populer, kecuali jika di depan namanya ada gelar “Ratu”.

Kini Emak telah berpulang. Warisannya nasihat-nasihat yang akan terus aku jalankan dan aku bagikan di meja makan kepada keempat anakku.

Gol A Gong

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

2 Balasan untuk “Cerita Emak di Meja Makan tentang Banten kepada Istriku”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)