Surat Terbuka untuk Mahasiswa yang Sedang KKN

Di meja makan, kami merasa bersemangat. Tentu saja, kami mendiskusikan surat-surat dari mahasiswa yang sedang KKN itu. Isi surat itu beragam kebutuhan saat KKN. Itu tidak bisa ditunjang oleh dana pribadi sehingga perlunya mahasiswa KKN memutar otak agar kebutuhan bisa tercukupi. Pada akhirnya peserta KKN ini ada yang mengirim proposal sampai dengan surat.

Beberapa mahasiswa yang sudah lebih dulu mengirim proposal ataupun surat kami terima. Dan tentu, mereka melirik perpustakaan komunitas kami dengan meminta buku-bukunya.

Teman saya yang juga salah satu relawan Rumah Dunia dimana kami mengabdi sampai membebaskan mahasiswa untuk memilih sendiri buku dari perpustakaan. Ambooooi… Jumlahnya puluhan.

Kemudian tidak lama ada juga peserta KKN yang saya persilakan untuk mengambil buku-buku. Tapi mohon maaf sudah tidak bisa memilih seperti yang dipersilakan oleh Naufal.

Mereka mengambil masing-masing satu kantong plastik besar yang isinya mulai dari buku pelajaran sampai dengan buku anak-anak. Pokoknya banyak banget.

Namun, saya sebagai relawan juga pernah dibuat kecewa oleh adik-adik mahasiswa yang sedang KKN ini. Apakah itu? Mereka begitu menggampangkan segala sesuatu di antaranya waktu.

Saya sudah menyiapkan waktu untuk mereka di sela-sela kesibukan pekerjaan. Mereka juga yang mengatur waktu pertemuan. Tapi, mereka sendiri yang telat dan hampir saja saya ditinggal oleh Gol A Gong liputan ke tempat magot milik Ipi Yanto di Sepang.

Padahal, kami tidak meminta feedback apapun. Tetapi mengapa mereka tidak bisa menghargai pemberian? Lain kali hargailah waktu orang lain yang siap memfasilitasi adik-adik semua.

Yang terbaru, peserta KKN ini ada-ada saja mengirim surat ke kami. Saya sampai dibuat bingung. Apa sebab? Surat itu berbunyi minta bahan pangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa Rumah Dunia adalah lumbung padi.

Kata Gol A Gong berkelakar, “Rumah Duna ini Kantor Dinas Sosial, Dinas Perpustakaan, dan Dinas Pendidikan Swasta.”

Saya masih baru jadi relawan Rumah Dunia. Menurut kisah Gol A Gong, ini sudah berlangsung sejak awal berdiri Rumah Dunia. “Tidak apa jika minta buku. Jika ada, beri saja. Tapi kalau minta bahan pangan, salah alamat,” Gol A Gong yang baru pulang dari Safari Literasi Maluku tertawa. Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesa sering bagi-bagi buku dengan program Hibah Buku untuk Indonesia.

Jelas sangat keliru surat itu jika ditunjukkan kepada kami. Baiknya, surat itu ditunjukkan ke Menteri Pertanian. Insya Allah kalau suratnya ditulis dengan tidak buruk—direspon dengan baik.

Yang terakhir, kalian begitu tega meminta buku saya untuk disumbangkan. Iya tahu, kamu kenal saya. Tapi cobalah berpikir bahwa saya membeli buku sampai terserang asam lambung.

Saya membeli buku dengan susah payah. Makan sehari sekali dan sudah kumpul ratusan buku dengan seenaknya diminta begitu saja. Bukan pelit, tapi saya menghargai perjuangan. Oh iya, kalian ikut nyumbang buku nggak? Eh, saya lupa kalau yang minta buku nggak suka baca.*

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)