Saya dan Polisi Tidur

Menyoal Polisi Tidur
Pada mulanya saya mengira polisi tidur atau speed bump atau gugujleu dalam bahasa di kampung saya, Menes, Pandeglang, tidak penting untuk dibahas. Namun, atas peristiwa yang kemarin yang saya alami itu, saya kira perlu disampaikan setidaknya untuk kita renungi bersama.

Akhirnya, saya mendapatkan informasi terkait polisi tidur ini dari artikel di internet. Informasi yang saya dapatkan polisi tidur dikreasi oleh pekerja bangunan di New Jersey, Amerika Serikat tahun 1906 dengan ukuran tinggi 13 cm atau 5 inci. Ukuran ini kemudian disempurnakan oleh Arthur Holly tahun 1950 yang merupakan pemenang nobel eletromagnetik. Selang waktu berjalan, atas penyempurna yang dilakukannya akahirnya polisi tidur versi Holly ini digunakan di jalan umum, dan bisa kita lihat aplikasinya sampai ke pelosok Indonesia.

Lantas seperti apa aturan yang ada di Indonesia terkait dengan polisi tidur ini? Pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 14 Tahun 2021 Tentang Perubahan atas PM Perhubungan Nomor 28 Tahun 2018 Tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan. Pasal 3 ayat (3) yang berbunyi Speed Bump sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berbentuk penampang melintang dengan spesifikasi adalah sebagai berikut: a) terbuat dari bahan badan jalan, karet, atau bahan lainnya yang memiliki kinerja serupa; b) ukuran tinggi antara 5 cm sampai dengan 9 cm, lebar total antara 35 cm, sampai dengan 39 cm dengan kelandaian paling tinggi 50 persen c); kombinasi warna kuning atau putih dan warna hitam berukuran antara 25 cm sampai dengan 50 cm (lima puluh
sentimeter).

Di dunia nyata kemungkinan besar tidaklah seperti dalam aturan Permenhub. Bisa kamu saksikan bagaimana besarnya dan tingginya ukuran standar polisi tidur di sekitar kita. Kadangkala seperti memakai bahan untuk mengecor bangunan sehingga begitu keras dan mengikis ban motor.

Kemudian jika di perkampungan, jika ada selang air yang melintang, si pemiliknya dengan sigap mencongkel aspal jalan untuk menyimpan selang itu kemudian setelah duicongkel di atasnya pun dibangunlah polisi tidur agar si selang aman. Apa yang terjadi? Setelah itu jalan pun rembes oleh air hujan karena polisi tidur yang dibuatnya pun runtuh karena dibuat dengan bahan seadanya.

Hal unik lainnya adalah pemilihan warna polisi tidur yang sama dengan warna jalan. Tidak ada pembeda di antara jalan dan polisi tidur sehingga ketika kecepatan motor tidak bisa dikendalikan dan menghajarnya tentu akan menimbulkan kaget, linu pinggang dan jelas membuat laher motor menjadi tidak awet.

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)