Namun, Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi yang harusnya lebih bagus secara infrastruktur—belum memiliki flyover, sehingga di beberapa titik rawan terjadi kemacetan. Selain itu, jalanan Kota yang sempit dan minim penerangan dibeberapa tempat menjadikan Kota Serang tidak terlihat sebagai sebuah Ibu Kota Provinsi.

Transportasi umum di Kota Serang juga tidak tertata dan belum terintegrasi dengan baik, sehingga jauh dari kata nyaman. Misalnya saja, di sekitaran Tugu Selamat Datang banyak angkot atau bis yang berhenti sembarangan sehingga sering terjadi kemacetan. Padahal jalan itu adalah pintu masuk ke Kota Serang.

Hal yang membuat saya kaget adalah ketika angkot yang ada di Kota Serang adalah angkot dengan ukuran yang kecil, padahal di daerah saya saja angkot seperti itu sudah diganti beberapa tahun yang lalu dengan angkot yang lebih besar. Angkot kota Serang membuat saya merasa mundur beberapa tahun ke zaman saya SD.

Trayek angkotnya juga tidak jelas, saya pernah naik angkot dari Kampus Untirta Pakupatan hendak ke Kebon Jahe, namun di tengah perjalanan saya diturunkan lantaran tujuan mayoritas penumpang ke arah Pasar Rau.

Hal yang menjengkelkan lainnya adalah ketika saya naik angkot dari Untirta Pakupatan hendak ke Rumah Kontrakan teman saya di Sindangsari. Dari Untirta saya naik angkot arah Kebon Jahe, dilanjutkan dengan angkot arah Ciomas. Namun angkot dari Kebon jahe menuju ke arah Ciomas sedikit, padahal masih sekitar jam 19.00 WIB. Sehingga saya mesti sabar menunggu penumpang lain sampai angkot penuh kemudian baru jalan.

Pengalaman seperti ini baru pertama kali saya alami di Kota Serang, Ibu Kota Provinsi. Tentu hal itu menjengkelkan dan buang-buang waktu serta menghambat mobilitas saya dan masyarakat lainnya. Dengan daerah saya saja yang bukan Kota masih tertinggal, apalagi dibandingkan Kota Tangerang atau Tangerang Selatan.

Di Kota Tangerang misalnya, dalam hal transportasi umum mempunyai terobosan “Si Banteng” angkot mewah berdesain Retro 90’an untuk memudahkan mobilisasi masyarakat. Walaupun terkesan ekslusif lantaran tersedia AC dan pintunya bisa tertutup otomatis, namun tarifnya sangat murah. Selain Si Banteng, pemerintah Kota Tangerang juga menghadirkan Bus Rapid Transit atau BRT Kota Tangerang guna mengurai kemacetan dan menyediakan transportasi massal yang bersih, aman, nyaman dan murah.

Begitupun dengan Tangerang Selatan, Pemkot TangSel bekerja sama dengan transjakarta untuk menyediakan rute sampai ke Tangerang Selatan. Lalu apa terobosan Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi dalam melayani mobilitas masyarakat dengan transportasi massal? *

Please follow and like us:
error52
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia