Jamir: Marbot Masjid Baitul Mu’minin, Kadaleman, Kibin, Serang-Banten Pingin Naik Haji dan Nikah

Saya cukup terkejut, saat mengetahui laki-laki itu (yang jika bicara agak tersendat-sendat) sudah menjadi marbot sejak Sekolah Dasar, tahun 1990-an. Laki-laki itu bernama Jamir, kelahiran Serang, 1983. Saya memang sudah mengenalnya cukup lama. Tapi untuk urusan marbot ini saya baru mengetahuinya belakangan.

“Sejak masjid ini belum direnovasi, saya sudah jadi marbot. Sejak saya masih SD. Tapi kemudian selang satu tahun diganti orang lain. Selepas itu saya jadi marbot lagi hingga sekarang,” cerita Jamir, usai beres-beres masjid, akhir Juli lalu.

Dari pengakuannya, ia melakukan ini dengan ikhlas. Tak ada gaji saat itu. Tetapi, setiap di masjid ada riungan atau selametan, Jamir selalu diberi jatah satu panjang nasi atau berkat satu bakul. Jamir selalu mensyukuri apa yang ia dapat itu.

Jamir, yang sekarang genap berusia 39 tahun itu memang belum memiliki pekerjaan tetap. Hari-harinya disibukkan dengan membantu ayahnya yang bernama Lancong (50), menggarap sawah. Atau seringkali beberapa warga memintanya untuk membantu ngaduk semen alias menjadi kuli bangunan.

Jamir memang tidak sendiri menjadi marbot. Bersama orangtuanya, Jamir berbagi tugas membersihkan masjid. Kata Jamir, ini sebenarnya tugas orangtuanya. Tapi ia tak tega melihat ayahnya kerja sendiri. Jadi ia membantu tugas orangtuanya buat mengurus masjid. Tapi sekarang lebih sering Jamir yang mengurus kebersihan masjid. Kadang orangtuanya bantu-bantu pada hari Jumat.

Jika hari-hari biasa, Jamir membersihkan masjid setiap sore. Atau selepas ada acara riungan. Khusus hari Jumat, Jamir akan membersihkan masjid sejak pukul 6 pagi. Sebab ia akan membersihkan seluruh masjid. Termasuk juga menggelar sajadah dan lain-lain.

“Kalau enggak dari pagi bersih-bersihnya, takut enggak keburu. Kan buat warga jumatan,” cerita duda yang tidak mempunyai anak ini.

Tetapi sejak tiga tahun belakangan, atau sekitar tahun 2019, diakui Jamir, pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), memberikan intensif untuk Jamir dan orangtuanya sebesar Rp.350.000,- dalam satu bulan. Uang itu diabgi dua. Kadang Jamir mengaku sebagian uang itu ditabung dan untuk kebutuhan sehari-harinya. Kadang jika ada sisa lebih, uang itu untuk membeli baju lebaran.

Soal honor dari pihak DKM ini, diakui Jamir ia sama sekali tidak pernah meminta diberi gaji. Itu murni datang dari pengurus masjid. Diberi uang lelah itu, Jamir mengaku mensyukuri saja.

Saat ditanya apa mimpinya dalam hidup ini? Jamir mengaku hanya ingin dua hal saja. Pertama bisa berangkat haji dan kedua bisa punya pendamping hidup lagi. Diketahui Jamir menjadi duda sejak 2005 hingga kini. “Kalau ada rizki saya ingin berangkat haji. Dan kedua, kalau ada jodoh ingin segera menikah,” pungkasnya. *

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)