15 Tahun Nurjaya Pergi ke Arab, Pulang Bisa Bangun Rumah

Meski tidak ada data pasti, diperkirakan lebih dari 20.000 orang Pontirta pernah bekerja di negara-negara Arab sebagai TKW/TKI. Sekalipun begitu, paling tidak data berikut bisa memberi gambaran. Pada 2009 saja sebanyak 3.338 orang Kecamatam Tirtayasa berangkat sebagai TKI ke Timur Tengah dan Korea, (hal 4-5). Penelitian Ade berfokus pada orang-orang Pontirta.

Nurjaya memang bukan dari Pontirta. Ia berasal dari Kampung Kadaleman, Desa Ketos, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang. Ia pergi menjadi TKI di Madinah sejak 2006 hingga 2021 kemarin. Saat berangkat ke Arab, umur Nurjaya masih  21 tahun. Sekarang sudah 36 tahun.

Nurjaya mengaku bersyukur bisa memiliki majikan yang baik dan royal. Kisah-kisah sedih yang kerap dialami TKI saat bekerja di negeri orang, tidak pernah terjadi pada Nurjaya. Gajinya pun selalu dibayar tepat waktu. Tidak macet. “Makanya saya sampai betah ningga bekerja jadi TKI selama 36 tahun,” kata Nurjaya saat bercerita kepada wartawan, Kamis (11/8/2022).

Sepengetahuan saya, di Kadalaleman sendiri ada berapa orang yang pernah menjadi TKI ataupun TKW. Bahkan hingga berita ini ditulis, beberapa warga Kadaleman masih ada yang bekerja di Arab dan negara-negara lain.

Kembali ke cerita Nurjaya, ia mengaku selama 15 tahun bekerja di Madinah, baru 4 kali mengambil cuti. Peraturannya memang begitu, setiap dua tahun sekali ia bisa ambil cuti. Dan Nurjaya memanfaatkan masa cuti itu untuk pulang melepas kangen dengan keluarga. Pada 2012 Nurjaya pulang lalu menikahi gadis desa Kadaleman. “Enggak lama setelah menikah, saya mesti kembali lagi ke Madinah untuk bekerja,” papar suami dari Nurjanah (34) ini.

Ia bercerita awalnya bisa menjadi TKI lantaran ditawari orangtuanya bekerja. Sebelumnya orangtua Nurjaya, Hj. Nurnas, sudah lebih dulu bekerja menjdi TKW di Madinah, tepatnya di Jalan Sultonah, Kampung Azhari, Madinah. Waktu itu Nurjaya sudah disiapkan visa. Jadi tinggal berangkat. “Saya dijemput orang tua buat jadi supir. Di sana supir pribadi majikan sudah berhenti,” jelasnya.

Masih menurut Nurjaya, orangtuanya sudah kerja di Madinah sejak tahun 1998. Sejak Nurjaya masih kelas II SMP. Orangtuanya pertama bekerja di Jedah, lalu pindah ke Madinah.

Nurjaya masih ingat awal-awal ia sampai di Madinah dan bekerja. Saat itu, ia masih belum mengerti bahasa orang Madinah. Suatu hari ia pernah diminta tolong majikannya untuk membeli telor. Tapi yang dibeli oleh Nurjaya malah martabak telor. “Awal-awal saya ke Madinah ga bisa ngomong. Disuruh beli telor, yang dibeli malah mertabak telor. Majikan ga marah. Akhirnya suruh beli lagi. Warung di sana enak, kalau kita beli salah, bisa ditukar yang penting belum dibuka kemasannya,” papar Nurjaya yang sudah naik haji dua kali dan umrah puluhan kali ini.

Nurjaya mengaku pekerjaan di Madinah ini cukup ringan. Hanya menjadi sopir pribadi. Tugasnya antar jemput majikan dan anak-anak majikan saat ke sekolah.

Nurjaya mengaku paling seru saat diajak ke pantai, ke luar kota. Jaraknya sekitar 400km dari Madinah ke Jedah.

Lantas berapa gaji yang didapat saat bekerja di Madinah? Nurjaya mengaku awal-awal bekerja gajinya per bulan hanya 900 real. “Alhamdulillah seterusnya naik menjadi 1.200 real. Kalau dirupiahkan sekitar Rp.4.000.000,- dalam sebulan. Alhamdulilah dari kerja di sana bisa kebangun rumah di kampung halaman,” pungkasnya. *

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)