Perubahan yang penulis saksikan begitu drastis karena bertahun-tahun merantau dan saat melihat kembali tempat kelahiran begitu memprihatinkan. Intinya Menes menjadi tidak keruan atau lebih pas dibilang acak-acakan—terutama soal lalu lintas—lebih khususnya di Alun-alun. Padahal, Polsek dengan Alun-alun berdekatan kurang lebih lima meter.

Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh masyarakat Menes atau orang yang dari luar Menes adalah lawan arah. Ada tiga arah menuju Alun-alun yaitu dari Cimanying, Pasar Menes, dan Polsek. Semuanya sudah memiliki plang rambu-rambu baik larangan juga diperbolehkan.

Misalnya, dari arah Pasar Menes seharusnya tidak boleh belok kanan, arah Cimanying tidak boleh lurus, dan arah Polsek tidak boleh belok kanan. Namun yang terjadi pada kenyatannya adalah—aturan itu dilanggar hampir setiap hari.

Tentu saja, resiko yang tidak diharapkan seperti tabrakan, bersenggolan sering terjadi. Dengan aturan yang dilanggar tersebut makin membuat runyam terutama saat siswa keluar dari sekolah. Ada banyak sekolah yang berdekatan dengan Alun-alun Menes, yaitu Mathla’ul Anwar Limahdlatil Ulama (Malnu) yang siswanya berjumlah ribuan, SMPN 1 Menes, SDN Purwaraja 1, dan SDN Purwaraja 2.

Saat mereka istirahat sekolah jalanan alun-alun akan tertutup. Dan sering sekali karena kecerobohan pengendara sepeda motor atau bahkan mobil ada siswa yang tertabrak. Masalah ini terus saja berlangsung tanpa adanya aturan yang ditegaskan oleh pihak-pihak terkait—salah satunya adalah kepolisian. Lagi-lagi, Polsek Menes kurang begitu peduli.

Ada banyak alasan saat penulis mencoba menelusuri mengapa orang-orang melanggar lalu lintas? Jawabannya hampir bervariatif—mulai dari tidak tahu menahu soal aturan lalu lintas, tidak melihat plang larangan, sampai dengan menghemat waktu.

Jawaban yang banyak dikeluarkan oleh pelanggar lalu lintas di Alun-alun Menes adalah menghemat waktu. Padahal, seandainya memutar tidak akan habis satu menit. Nampaknya, kebanyakan dari kita masih buta literasi numerasi. Tidak pernah paham membaca plang lalu lintas.

Kebanyakan pelanggar yang penulis temui pada 7 Agustus 2022 adalah ibu-ibu. Setiap menit, ibu-ibu keluar dari arah Pasar Menes dan melakukan pelanggaran lalu lintas, yang kedua didominasi oleh para siswa yang baru keluar dari sekolah, dan terakhir adalah bapak-bapak.

Selain itu, para siswa beralasan karena mereka jajan di sepanjang Alun-alun Menes malas untuk puter balik, sehingga cara yang paling singkat untuk membeli sesuatu adalah melawan arah.

Saat penulis melakukan pemotretan di jalan arah Cimanying tiba-tiba puluhan sepeda motor trail terdengar dari kejauhan. Mereka juga melawan arah yang seharusnya belok kiri terlebih dahulu, namun mereka lurus ke arah Polsek dan tembus ke arah Jiput.

Untung saja, pada saat itu hanya sekolah Mathla’ul Anwar Limahdlatil Ulama (MALNU) yang masih menjalankan aktivitasnya—masuk sekolah di hari Minggu. Dan kebetulan sedang menjalankan belajar mengajar di dalam sekolah.

Pada intinya, penulis mengharapkan adanya pihak kepolisian khususnya Polsek Menes bisa menertibkan lalu lintas di seputar Alun-alun. Dan untuk menekan resiko kecelakaan para pedagang yang membuat siswa berkerumun di sepanjang Alun-alun juga ikut ditertibkan.*

Please follow and like us:
error52
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia