Ya, sejarah panjang tentang teh juga bisa kita pahami sebagai pemaksaan dari kolonial (Belanda) kepada kita saat tanam paksa (1830) diberlakukan. Bibit teh dari Srilangka dan India dibawa masuk, kemudian di tanam di dataran-dataran tinggi di Suatra dan Jawa. Saya pernah menjelajahi tanah Sumatra dan Jawa, antara kopi dan teh berebut tempat di bumi nusantara. Memang setelah kolonialisme hengkang, kita (seolah) mrasakan manfaatnya.

Saya menikmati tea break atau afternoon tea. Betapa nikmat saat menghirup harum dan hangatnya teh plus pisang goreng. Saya pernah merasakan tradisi minum teh hijau di Jepang. Teh India di Daarjeleeng. Juga teh Malabar di Bandung.

Kini, saya tiba pada fase menikmati teh buatan istri di sore hari, di beranda rumah. Mendngarkan cerita keempat anak. Merasakan kegundahan isteri dengan zaman yang bergerak cepat. Memilih Hidangan Teh atau Kopi di Meja Makan, pasti saya memilih teh.

Teh pada akhirnya akan tiba di meja makan, sebagai pemersatu keluarga. Memilih Hidangan Teh atau Kopi di Meja Makan, akankah kita bersepakat memilih teh? *

Gol A Gong

Please follow and like us:
error52
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia