Makan Pecel Lele bersama Boy Chandra di Kota Padang sambil Ngobrol Soal Dikotomi Sastra Serius dan Sastra Populer alias Sastra Bestseller

Setelah selesai di Bukittingg, saya dan Rudi Rustiadi – asisten saya sebagai Duta Baca Indonesia, meluncur ke Padang. Kami berkegiatan dengan Forum Lingkar Pena, Komunitas Lini Buku, Pinto Janir dari koran Haluan , Sastri Bakri dari komunitas Teras Talenta, dan Boy Chandra – penulis muda yang sedang melejit.

Saya ingin menceritakan perbincangan saya dengan Boy Chandra yang hanya beberapa jam saja di Minggu malam, 21 Agustus 2022. Saya paling senang mendengarkan beragam cerita dari penulis muda. Dari cerita merkea, saya bisa menyesuaikan diri. Dan paling penting, saya sebagai Duta Baca Indonesia mendapatkan kritik dan saran dari mereka.

Boy Chandra datang menjemput kami di Hotel Savali yang bergaya Thailand. Saya langsung menyapanya, “Ini mobil dari royalti novel-novelmu, Boy?”

Lelaki gondrong itu menjawab, “Iya! Dari royalti novel-novel saya!”

Novel Boy Candra ‘Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi‘ diangkat ke layar lebar. Juga novel “Malik dan Elsa”. Hingga sekarang sekitar 24 novel sudah ditulisnya.

Kemudian perbincangan kami seputar dkotomi sastra serius dan sastra populer di Lini Buku. Komunitas Forum Lingkar Pena dan Pinto Janir dari koran Haluan bergabung. Memang ada anggapan bahwa karya sastra serius adalah karya sastra yang ditulis dengan tujuan untuk ditafsirkan (Darma, 2019:4). Sedangkan sastra populer ditulis dengan bahasa sehari-hari, ditujukan untuk orang kebanyakan. Sastra serius untuk kalangan terbatas. Itu seolah sastra popuer tidak untuk ditafsirkan atau tidk mengandung metafora di dalamnya.

Sebetulnya ini lagu lama. Tidak usah diperbincangkan lagi. Bagi saya, sastra adalah yang membawa manfaat dan menghibur pembacanya, tidak peduli dituliskan dengan bahasa sehari-hari atau untuk orang kebanyakan. Sastra, ya, sastra – karya tulis. Dan tidak betul kalau sastra yang dianggap populer – barangkali yang tepat adalah sastra best seller, tidak ada metafora di dalamnya. Sastra bestseller itu banyak sekali hal yang perlu ditafsirkan pembaca dengan penyuguhan yang sederana dan mudah dipahami.

“Menulis itu ibarat menjadi ikan, ada yang hidup di laut. Ada yang hidup di kolam. Ikan yang hidup di kolam tidak bisa dipaksakan untuk hidup di laut, juga sebaliknya,” begitu Boy Candra beranalogi.

Pertemuan kami ditutup dengan makan nasi pecel di pinggir jalan dekat Taman Budaya Kota Padang. Tentu yang muda, dong, yang bayar. Terima kasih, Boy! Tetap semangat menulis!

Gol A Gong

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)