“Sebentar!” Pak Haji mengeluarkan sebuah amplop dari saku kokonya. “Saudara-saudara!” suaranya keras kepada orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan tengah rumahnya. “Jangan pada iri, ya! Walaupun Pak Wawan ini guru paling muda di sekolah saya, tapi karena dia punya momongan lagi, yang ketiga, saya kasih amplop sama dia! Ini buat beli popok si bayi!”

“Wah, pilih kasih, Pak Haji!” protes Arifin.

Para warga komplek tertawa menangapi. “Anak saya, yang di te ka, si Usi, ulang tahun, kasih kado, Pak haji!” usul Yasin, juga tertawa.

“Nanti saya kasih kado unta! Tapi tahun depan, kalo saya naik haji lagi!” Akbar juga tertawa.

“Hahaaaahaha…!” semua tertawa.

Warga kompolek guru yang bahagia, semua tertawa.

 “Ini, ambil! Alakadarnya, ya,” Akbar menyusupkan amplop putih itu ke saku kemeja batik Wawan.  “Sebentar,  ya,” Akbar mencari-cari seseorang di antara keramaian rumahnya. “Santi!” panggilnya.

Santi yang sedang membagi-bagikan minuman ke para tamu menatap ke ayahnya. “Iya, Pak!”

“Ambilkan air zam-zam di kamar Bapak. Satu saja. Buat Pak Wawan!”

“Baik, Pak!”

“Silahkan, tunggu diluar, ya.”

“Terima kasih, Pak Haji,” Wawan mundur dan memberi kesempatan pada warga komplek guru lainnya untuk menjabat tangan Akbar, kepala sekolah di SMA Negeri ternama di kotanya.

Beberapa warga komplek guru masih antri menyalami Akbar dengan beragam tujuan. Ada yang murni memberi selamat, ada yang ingin kecipratan berkah: siapa tahu suatu saat bisa ke Mekkah, dan ada yang berharap bisa mendapatkan oleh-oleh kurma asli dari Arab atau air zam-zam.

Sape kien[1]?” Akbar menarik tangannya, ketika dirasakan permukaan telapak tangan orang yang menyalaminya terasa kasar.

Kule[2] Pendi, Pak Haji….”

“Oh, sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir[3]?”

“Nggih, Pak Haji…..”

Arep jaluk oleh-oleh ape sire[4]?”

Ape bae[5], Pak haji….”

Korma bae, gih! Anak sire pire[6]?”

Papat[7], Pak haji!”

Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih[8]!”

“Iye, Pak Haji! Nuhun saos[9]!”Pendi meminggir, memberi kesempatan lain. Di genggaman tangannya ada sebungkus plastik berisi 5 korma.

Warga komplek guru terus mengalir menyambut kedatangan Akbar, yang sudah selamat pulang dari Mekkah. Saat walimatul hajj, Akbar pernah menjanjikan akan menyebut nama para warga di depan Ka’bah, agar kelak bisa berangkat mengikuti langkahnya menunaikain rukun Islam yang kelima.

Please follow and like us:
error50
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia