Gambaran Pendidikan di Indonesia dan Belanda, Menurut Ade Jaya Suryani Alumni Universitas Leiden

Ade Jaya yang merupakan kepala pusat bagian penelitian dan publikasi di LP2M UIN Banten ini mengatakan, jika di Indonesia hampir semua orang ingin kuliah, sementara di Belanda tidak semuanya ingin kuliah. “Mereka yang kuliah hanya yang mau jadi ilmuwan atau pemikir saja. Sementara yang mau jadi pekerja, masuk ke vokasi. Kalau di Indonesia vokasi itu semacam SMK atau kejuruan,” kata Ade Jaya Suryani, pemilik nama pena Ibnu Adam Aviciena ini.

Sedangkan untuk tingkat SD di Belanda itu sampai delapan tahun. Untuk TK dan SD digabung, begitu juga dengan SMP dan SMA digabung satu level. Level tingkat dasar, menengah, perguruan tinggi.

“Di Belanda setelah lulus SMA, umumnya orang berfikir tentang pekerjaan. Jadi kalau orang mau menjadi, misalkan petugas pemasang listrik, dia kuliah satu tahun jurusan itu. Fokus di situ saja. Orang yang menjadi tukang bangunan, setahun-dua tahun belajar tentang bangunan. Misal mau jadi orang yang mengurusi jalan, belajar di sana selama dua tahun. Di sana ada kelas-kelasnya. Dan di Belanda pekerjaan itu, sama bagusnya. Sama kerennya. Kalau di Indonesia kan, kalau ditanya apa pekerjaan kamu? Tukang kayu, misalnya, langsung dipandang sebelah mata. Sudah terbayang gajinya kecil, dan enggak pasti hidupnya. Kalau di luar negeri sama kerennya,” ujar lulusan S2 Islamic Studies, Leiden University ini.

Ade melanjutkan, sistem gaji di Belanda bagus. Dihitung per jam. Misalnya ada pekerja tukang kayu, atau bagian mengurus jalan, itu gaji per jamnya hampir sama dengan guru dan sebagainya. “Mereka itu hampir sama sejahteranya dengan orang bekerja jadi guru dan sebagainya,” jelasnya.

Berbeda dengan di Indonesia, di Belanda hanya sebagian kecil orang-orang ingin masuk universitas. Mereka yang masuk universitas, akan menjadi guru, ilmuan, dokter dan sebagainya. Dan jumlahnya sangat sedikit sekali. Dari pengalaman Ade Jaya waktu kulian S2 di Leiden, mahasiswa Belanda hanya ada satu atau dua orang saja. Sisanya mahasiswa asing.

“Sejauh pengalaman saya melihatnya demikian. Penjelasannya diantaranya karena sebagian besar orang enggak masuk perguruan tinggi, tapi menjadi pekerja-pekerja tadi. Sementara di kita, semua masuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi kan konseptual, teoritis, kalau tidak punya keterampilan, dia tidak bisa hidup. Contoh kuliah jurusan filsafat, lulus dari sarjana filsafat dia mau ngapain? Ada ga pekerjaan yang dikerjakan secara filosofi? Enggak ada. Kalau misalkan ada mahasiswa lulusan filsafat, bisa hidup bekerja itu kemungkinan karena keterampilan lain, yang bukan jurusan dia. Mungkin dia bisa ilmu komputer, teknik, desain grafis dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara orang di luar negeri tadi, masih dikatakanAde, memang mereka ingin belajar ilmu tersebut untuk keperluan hidupnya. Dan setelah lulus, lalu bekerja itu sama kerennya. “Sementara di kita, kalau enggak kuliah itu gimana, enggak dianggap. Kalau tidak punya ijzasah tidak bisa kerja. Itulah sistem di kita yang menyebabkan sebagian besar orang di kita ingin kuliah, meski pun setelah lulus kuliah enggak punya keterampilan juga,” paparnya.

Ade juga mengingatkan bahwa Belanda itu negara kecil, atau negara-negara di Eropa juga kecil, jadi mengurus Negara terhitung mudah. Jadi semua sekolah sama kerennya. “Di sana tidak ada istilah sekolah favorit. Kalau di kita misalnya ada SMAN 1 Serang, itu top ya. Nah, orang-orang dari pojok mana ngejar ke sini, mungkin dari Serang Timur ingin sekolah di SMAN 1 Serang, padahal jaraknya jauh. Sementara di luar ya, sekolah yang dekat dengan rumah. Dan sekolah itu sama kerenya dengan sekolah yang lain. Karena pemerintah memberikan perhatian sangat lebih ke sekolah. Misalkan sekolah gratis. Kalau di kita kan agak ngawur, misal Ujian Nasional sebelum dihapuskan. Standarnya harus sama se-Negara. Itu ngawur. Apa ngawurnya, coba bayangkan bagaimana ketika ada orang yang tinggal di pedalaman, gedung sekolahnya enggak ada, gubuk, gurunya ga ada, harus disamakan dengan sekolah elit di Jakarta. Enggak masuk akal,” pungkasnya. *

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)