Kami menerobos tempat kursus mulai dari bahasa Arab, China, dan tentu yang paling terbanyak adalah Inggris. Keluar dari gang kecil, kami melihat keramaian kota. Banyak sekali mobil dan motor berlalu lalang.

Tepat di depan kami ada tempat kursus Titik Nol. Dulu, teman saya yang berasal dari Banten, namanya Jordy, pernah juga kursus di tempat ini. Nah, di sampingnya sekitar 15 meter terdapat ATM BRI.

Saya melihat ATM BRI ini lumayan ramai sekali dikerumuni oleh orang. Saya tidak mengambil uang, tetapi diambilkan oleh teman. Maklumlah, uang saya ada di DANA bukan di ATM BRI untuk itulah harus numpang ambil ke teman.

Sebagai bentuk terima kasih telah dihantarkan oleh teman, saya membeli gorengan tepat di seberang jalan dekat ATM BRI. Saya membeli 15 ribu gorengan—dan sangat melimpah sekali gorengannya.

Tahu, singkong goreng, bakwan, dan lain-lain memenuhi kantong plastik. Saya penasaran dengan harganya, saya bertanya. “Satu gorengannya dihargai berapa, Bu?”

Dia menjawab dengan sangat santai. “700 rupiah, Masq.” Saya kaget bukan main. Kenapa bisa sih murah begini? Padahal sekarang apapun sedang naik. Kok di sini murah sekali, apa sebabnya?

Di Serang, harga gorengan dihargai 1500 rupiah. Walaupun minyak goreng sudah turun, sialnya harga gorengan masih juga tetap di harga semula. Ah sudahlah, rasanya sangat sulit sekali membandingkan harga gorengan di Kampung Inggris, Pare dengan Kota Serang.

Oke, untuk rasanya, gorengan di Kampung Inggris lumayan enak. Dan sayangnya mereka kasih cabai sangat sedikit sekali. Barangkali, harga cabai mahal. Ah saya tidak tahu.*

Please follow and like us:
error51
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia