Bangunan dua lantai dengan tangga melingkar dan rak buku yang panjang terlihat sangat estetik dan nyaman sebagai tempat membaca buku atau belajar. Ditambah dengan kursi dan meja yang santai, terlihat tempat ini ramai dikunjungi oleh kalangan anak muda.

Rumah Dunia tentu kebalikannya. Tempatnya terbuka, setiap hari aku dan relawan lainnya harus membersihkan sampah daun pohon bambu, sawo, dan jati. Juga sampah plastik dari pengunjung.

Awalnya, aku mengira bahwa Rumah Literasi Gorontalo ini adalah gedung perpustakaan milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Gorontalo. Tetapi, setelah aku riset lebih dalam. Rumah Literasi Gorontalo ini dibangun oleh Ustadz Aan Candra Talib pada tahun 2016. Dan sejak November 2022 dibuka untuk umum.

Sama juga dengan Rumah Dunia, didirikan ole Gol A Gong, Tias Tatanka, Toto ST Radik, Andi Suhud, Maulana Wahid Fauzi pada 1998, kemudian dibuka untuk umum pada 2002. Bahkan kini sudah jadi Yayasan Pena Dunia dan akan diwariskan untuk masa depan Banten.

Auditorium Surosowan, Rumah Dunia di Serang-Banten, tempat di mana aku mengabdi jadi relawan

Jika melihat Rumah Literasi Gorontalo ini, secara arsitektur jadi teringat Teras Bambu yang dikelola Friska-Ikhsan di Tembong, Kota Serang.

Aku dan Friska, pengelola Komunitas Teras Bambu di Tembong, Kota Serang

Rumah Literasi ini, terletak di Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Hanya 10 menit dari kampus Universitas Negeri Gorontalo, tempat aku kuliah Agustus 2023 nanti.

Dalam pertukaran mahasiswa nanti, aku yang sehari-hari kuliah di FISIP Unirta Kota Serang-Banten, akan “pindah” selama 6 bulan hingga Desember 2023 ke Universitas Gorontalo.

Dari pantauan di instagram, perpustakaan ini buka setiap hari dari pukul 10.00 sampai 23.00 WITA. Fasilitas yang tersedia berupa ruang membaca dengan desain ala Eropa, masjid, dan kafe dengan suasana taman yang asri.

Perpustakaan bergaya Eropa ini, menawarkan dua pilihan kepada pengunjung. Yaitu menjadi member atau hanya pengunjung biasa.

Untuk menjadi member, masyarakat umum dikenakan biaya Rp150 ribu per bulan dan mahasiswa/siswa dikenakan biaya Rp100 ribu per bulan. Sedangkan bagi pengunjung yang hanya ingin sekali mengakses, cukup membayar Rp10 ribu untuk siswa/mahasiswa dan Rp20 ribu untuk masyarakat umum.

Menurutku, dengan mengeluarkan uang untuk menjadi member atau sekedar menjadi visitor di Rumah Literasi Gorontalo tidak rugi dan sangat sepadan dengan apa yang didapatkan.

Aku ingin segera berkunjung ke Rumah Literasi Gorontalo dan menjadi member. Semoga dapat kesempatan untuk banyak berbincang dengan pengunjung, pengelola dan pemiliknya.

Please follow and like us:
error52
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia