Puisi adalah suara yang tidak bisa dibungkam, ia mesti keluar dan didengar orang-orang, seperti kata WS Rendra dalam salah satu sajak pamfletnya; puisi menangkap jerit hewan yang terluka. Begitulah, penyair bekerja menangkapnya dan mengucapkannya kembali ke dalam puisi.

Puisi bukanlah berita, oleh sebab itu ia tidak hanya menyajikan fakta-fakta belaka, tetapi membingkainya dengan imaji-imaji. Puisi melakukan rekonstruksi terhadap realitas dengan cara dekonstruksi, sehingga seolah-olah ia terlepas dari kenyataan, padahal ia justru berkelindan dan menyublim dalam kenyataan.
Persoalan yang digarap puisi memang tidaklah selalu soal-soal kamar, seperti curhat-curhat, tapi juga masalah sosial bahkan ekonomi politik. Puisi menggarap apa saja seputar manusia, benda-benda yang bertebaran dan terhubung dengan manusia dibuatnya mampu berbicara dan bercerita, membuat apa-apa yang dalam dan menggelisahkan kita seolah mendapatkan pencerahannya.

Saya berusaha menggarap tema-tema yang sedang hangat hari-hari ini, yaitu tentang Palestina. Dorongan itu muncul karena melihat bagaimana ketidakadilan bekerja sedemikian buta membunuhi manusia, seolah kematian hanyalah sebuah fiksi belaka. Kekuasaan dan perang yang terjadi akibat keserakahan, menjadi tega dan melihat manusia sebatas seperti benda-benda tidak berperasaan. Hal inilah yang membuat saya mesti bersuara sebisanya; menangkap jerit mereka yang terluka.

Khanafi

Please follow and like us:
error50
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia