Quo Vadis, Kang Opik dan Forum TBM 2020-2025

Saya ingat, saat itu Pak Danu (Dr. Hurip Danu Ismadi) dari Kemdikbud RI, datang ke Rumah Dunia di Serang Banten akhir 2004, menawari dana hibah Rp. 25 juta dan saya ikut bursa pemilihan Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat 2005 – 2010. Organisasi Mitra Pemerintah! Saya masih “alergi” dengan yang berbau pemerintah. Komunitas Rumah Dunia beberapa kali menolak tawaran dari APBD dan APBN, karena selalu diembeli “setor” sekian persen kepada oknum di Dinas Pendidikan di Provinsi Banten, yang kita tahu dikuasai Dinasti Atut-Wawan yang sangat korup. Terbukti sepulang Pak Danu dari Rumah Dunia, ada oknum dari Dindik Provinsi Banten yang menelepon saya dan menawari dana hibah asalkan siap dipotong Rp. 6 juta.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Perjalanan 50 Tahun Sastra Banjarbaru

“Seandainya tahun demi tahun adalah kumpulan teks dalam novel yang menuntut untuk saling dihubungkan, maka sekecil apa pun sebuah peristiwa tak ada yang boleh dilupakan.” (Harie Insani Putra)
***

Sejak Minggu, 13 September 2020, saya “traveling” di areal Museum Literasi Gol A Gong. Mengamati satu demi satu judul buku. Alhamdulillah, pada 20 September 2020, beberapa buku yang “nyunsep” sulit saya cari di rtimba belantara buku, akhirnya saya temukan. Terutama buku “50 Tahun Sastra Banjarbaru” (Sejarah dan Jejak Komunitas), disusun Ali Arsy, Arifin Noor Hasby, dan Hudan Nur.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Penulis Harus Memiliki Sikap Jujur dan Terbuka Dikritik

Penulis harus jujur? Maksudnya?Jika menulis kisah nyata (otobiografi/biografi), ini sesuatu yang berat pertanggungjawabannya. Jika saya yang menulis kisah hidup kamu, maka saya harus bertanya dulu: Untuk apa? Motivasinya apa? Saya pernah beberapa kali menerima pekerjaan ini dan beberapa kali menolak karena tidak memenuhi syarat. Menulis kisah hidup seseorang itu tidak bisa dipaksakan, apalagi jika terkait ke unsur konsekwensi (dampak ke lingkungan) dan kepopuleran (public figure).

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cinta Guru Kepada Muridnya

Ketika sedang asyik membuat materi novel best seller untuk Kelas Menulis Gol A Gong edisi September, Senin 31 Agustus 2020, tiba-tiba terdengar suara, “Assalamualaikum…” Hilman Lemri – relawan Rumah Dunia yang bekerja sebagai editor di Untirta Press, datang membawa oleh-oleh kue cincin dan emping. Ini yang saya tunggu untuk teman ngopi. Sebulan sekali dia pulang ke kampungnya di Menes. Dia tinggal bersama kami di mess Rumah Dunia.

Saya memang senang kue cincin sejak kecil. Juga Khong Ghuan. Biasanya jika tidak pandemi Covid-19, Ahmad Ragen (kini wartawan Kumparan dot com) bersilaturahmi membawakanku Khong Ghuan.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Pandemi Covid-19 Membuat Saya Kreatif Dengan Literasi Digital di Kelas Menulis Gol A Gong

Sejak kami memutuskan diam di rumah 13 Maret 2020 karena pandemi Covid-19, berarti kami harus siap menghadapi resiko tidak mendapatkan hasil apa-apa. Pada tanggal itu pula 4 kegiatan dengan honor menggiurkan dibatalkan. Bagaimana dengan dapur? Bagaimana dengan Rumah Dunia? Apakah kami khawai tidak akan makan? Kami percaya, Allah tidak akan bohong. Allah sudah berjanji akan mencukupkan hambanya yang berjalan mempejuangkan iqra dan qalam.

Lantas untuk opeasional Rumah Dunia? Alhamdulillah, kami dan para relawan yang memiliki pekerjaan sebagai ASN, freelancer, dan wartawan berjibaku iuran. Juga para simpatisan seperti LAZ HARFA Banten, dan para donatur perorangan merawat terus Rumah Dunia. Gong Publishing juga, alhamdulillah, pelan-pelan terus menerbitkan buku, sehingga bisa menyisihkan.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Jerinx Jadi Guru Kehidupan Untuk Kita

Jerinx sedang mengajarkan kepada kita bagaimana cara bijaksana bersikap terhadap fenomena yang sedang terjadi. Hanya saja resikonya sangat mahal bagi Jerinx. Sekarang sudah tidak bisa lagi rakyat vs penguasa, tetapi rakyat vs organisasi profesi, rakyat vs ormas, rakyat vs rakyat atau sebaliknya. Kita doakan saja Jerinx sehat di balik jeruji.

Kawan, khutbah kehidupan kali ini, saya ingin berdiskusi soal fenomena Jerinx. Dia sendirian, yang dia lawan adalah hegemoni profesi. Kita harus memakai akal sehat sebelum mengambil tindakan. Harus berpikir logis.

Peristiwa-peristiwa di sekeliling kita adalah tanda-tanda yang diberikan alam kepada kita, agar kita berpikir jernih. COVID-19 sebagai bagian dari konspirasi global sulit dibuktikan. Itu bisa saja seperti delusi.

Di hadapan kita terhidang kematian massal di seluruh dunia, bukan di satu kampung atau provinsi saja. Eropa, Amerika latin, bahkan tetangga saya mati terkena covid-19 dibuktikan dengan 2 diagnosa dari 2 rumah sakit ternama. Itu adalah cara alam mengajari kita untuk bersikap bijaksana.

Mari kita berduka cita untuk para keluarga yang ditinggalkan. Doakan mereka. Support tim paramedis. Saya membayangkan, stok SDM paramedis kita habis. Jika sudah begitu, siapa yang mengurusi para korban?

Mari, kita beri senyum kepada para keluarga yang ditinggal mati orang yang dicintainya. Beri senyum kepada para medis. Jangan beri mereka permusuhan. Jangan beri mereka analisa-analisa yang Anda sendiri tidak bisa membuktikan.

#jumat
#khutbahkehidupan

*) Foto lukisan Edi Bonetski di lokasi pameran “Sebelum Setengah” di Bimasena ArtSpace.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Senyum Seni(man)

Banyak orang menganggap sepele seni. Padahal itu bagian dari kita, keseharian manusia. Seperti halnya sampah, sisi lain dari kita yang buruk. Seni hadir untuk memperhalusnya.

Kadang kita menyepelekan apa yang sudah kita lakukan. Padahal banyak orang yang tersakiti. Kita selalu ingin dihormati, bahkan dalam keadaan tersudut. Apalagi ketika kita sudah membeli semua yang kita butuhkan, termasuk membeli kehadiran manusia. Kita merasa, bahwa semua orang harus menghamba kepada kita.

Jika kita berkubang di dalam seni tetapi kita merasa tidak pernah berhasil memperhalus diri kita sendiri, berarti ada yang salah dengan diri kita. Kualitas karakter kita suah terbentuk sebelum seni hadir di dalam diri kita.

Ingat, seni hadir untuk memperhalus.
Bukan malah menjerumuskan.

*) Foto: Art Street Edi Bonetski di dinding Bimasena ArtSpace, Taktakan Serang.

#Jumat
#khutbahkehidupan

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cintailah Indonesia Dengan Membangun Lingkunganmu!

Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945, kini sudah berulangtahun ke 75. Setiap hari kita mereguk udara, tanah, dan air dari bumi pertiwi ini secara gratis.

Kita sudah membalasnya?
Pernahkah Indonesia meminta balasannya?
Jika Indonesia bisa berbicara, dia akan mengatakan:
“Cintailah aku!”

Cinta kepada tanah air Indonesia salah satu bentuknya adalah dengan cara membangun lingkungannya menuju ke arah yang lebih baik.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5