Metamorfosis, Antologi Cerpen Bukan Jiplakan

Pandemi Covid-19 membawa berkah buatku. Aku dan istriku meluncurkan Kelas Menulis Gol A Gong pada Juni 2020. Ada Kelas essay, novel best seller, dan cerpen. Hawa nafsu dari para peserta untuk segera membuat antologi cerpen atau essay kami kendalikan.

Proses riset, menulis, dan revisi harus serius dijalani para peserta. Dimulai dari premis, sinopsis, hingga bolak-balik revisi hingga final. Jika novel, outline pun ditempuh, sinopsis per-bab dibahas detail. Andai sinopsis tidak layak, kami kembalikan dan kami bimbing hingga bisa.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

“Pergilah Dari Rumah, Anakku,” Begitu Pesan Bapak Kepadaku

Bapak pernah berkata kepadaku, “Jika kamu membuat sesuatu, pasti ingin orang-orang datang dan melihat.” Bapak mencontohkan, misalnya aku melukis, lalu lukisan itu dipamerkan. Tentu aku berharap orang-orang datang ke pameran, menikmati lukisan-lukisanku. Tuhan pun begitu. Tuhan menciptakan semesta raya dengan segala isinya. Tentu Tuhan ingin karyanya dilihat olehku.

“Maka, jangan seperti katak dalam tempurung. Bertebaranlah di muka bumi. Misalnya di Serang pagi ini hujan. Nah, apakah pada waktu yang sama, di Jakarta atau Bandung, juga hujan? Untuk membuktikannya, kamu harus mendatangi kota itu. Pergilah dari rumah..,” begitu pesan Bapak.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Porterku Sayang

Sebelum Jonan jadi Direktur PT KAI, stasiun jadi tempat berburu ide cerita yang menarik. Porter, tukang nasi bungkus, tukang semir sepatu, pengemis, bahkan tukang tipu juga berseliweran. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Jika tidak punya tiket, jangan harap bisa masuk ke peron. Apalagi tidur di bangkunya, seperti yang pernah saya lakukan saat backpacking di era 1980-1990-an.

Nasib porter di stasiun masih ada, terutama di Gambir. Jika saya traveling naik kereta dan pulangnya membawa barang banyak, saya tidak khawatir. Porter selalu siap sedia membawakan barang-barang saya ke taksi. Bagi saya, porter adalah profesi. Di belakang porter ada keluarga yang harus dinafkahi. Itu sebab setiap berpergian, saya upayakan mencari porter. Profesi ini harus kita support, agar mereka tetap bersemangat bekerja.

Tapi sekarang di era Jokowi bandara Soekarno – Hatta, para porter tidak mau lagi menerima bayaran. Saya paksa juga tidak mau. Itu bagian dari pelayanan bandara, kata mereka. Di beberapa bandara setingkat provinsi, porter masih ada. Mereka sudah menyambut kita di pintu terminal kedatangan. Sisihkan sekitar Rp. 25 ribu – Rp. 50 ribu, mereka akan tersenyum bahagia. Itulah sharing ekonomi. Semoga profesi ini tidak hilang. Jika porter kita pertahankan, itu sama dengan kita mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Live IG Sahabat Balada Si Roy

Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang-orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini.

Serang, 1988 Pengarang

Saat ini proses pre-production film ‘Balada Si Roy’ sudah dimulai. Kisah petualangan anak muda karya Gol A Gong yang dimuat secara serial di Majalah Hai pada akhir 80-an itu ternyata harus menempuh perjalanan puluhan tahun hingga (akhirnya) diangkat ke layar lebar.

Kini, para pembaca awal serial BSR rata-rata telah berkepala empat, sudah beranak pinak, bahkan Majalah Hai tempat serial itu dimuat pun sudah almarhum!Lantas, apakah kisah ‘Balada Si Roy’ masih relevan dengan kehidupan generasi muda Indonesia saat ini?

Nyalakan dulu Zippo-mu. Tring! (IDN Pictures)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Cerita Pendek di Era Digital

Pandemi Covid-19 melahirkan cara hidup “new normal”. Sudah lazim sekarang orang-orang menggunakan masker dan menjaga jarak. Bahkan tidak lagi bertemu untuk melakukan pekerjaan yang sifatnya kolektif. Semuanya berpindah ke internet. Begitu juga dunia sastra. Para penulis segala jenis sastra di Indonesia “eksodus” ke online; mulai dari Kelas Menulis Online, Komunitas Menulis online, Pelatihan Menulis, Pembacaan Puisi, Bedah Buku, hingga Peluncuran Buku.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Karakter Tokoh “Raka” di “Lelaki di Tanah Perawan” Tidak Sempurna

Corona untuk sebagian orang petaka, untuk sekolompok lain jadi alat membunuh lawan politik, untuk pengusaha jadi (peluang) ladang bisnis, untuk filantropi jalan berlomba-lomba amal kebaikan, dan bagi saya yang penulis adalah trigger atau pemicu meledakkan ide di kepala. Maka jadilah novel Lelaki di Tanah Perawan.

Di novel Lelaki di Tanah Perawan yang saya garap sejak 20 Maret 2020 ini mengambil setting saat ini, dimana politik identitas, Corona, humman trafficking, klenik, tradisi-modernisasi, sesajen, dan politik uang di Pilkada merajalela.

Karakter tokoh utamanya diluar kebiasaan saya. Biasanya macho, ganteng, disukai perempuan, kali ini saya keluar dari kebiasaan itu. Saya mencoba tokohnya kaya tapi jadul, anak Mama, berkacamata karena kutu buku, digital native, sarjana ekonomi, sok pemberani  padahal deg-degan, anak bawang, jarang gaul, dan tidak punya pengalaman pada wanita. Jika memiliki keinginan, memang harus ia dapatkan. Tiba-tiba saja dia menginginkan Ratih – teman kuliahnya berbeda kasta, jadi calon istrinya.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5