Berdaya dengan Buku

Ketika saya dikukuhkan jadi Duta Baca Indonesia 2021-2025, langsung terlintas tagline atau visi: Berdaya dengan Buku. Saya ingin mengbarkan kepada orang-orang, bahwa tidak ada yang sia-sia dari membaca buku. Saya bisa berdaya karena membaca buku. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Kopi di Setiap Kota yang Aku Singgahi

Setiap aku datang ke sebuah kota, selalu yang kucari adalah masjid raya di kota itu dan tentu kedai kopi. Di masjid raya biasanya sering kutemukan wajah-wajah kembaran kawanku atau seseorang yang aku temui di kota lain. Jika di kedai kopi, aku menyukai suasananya. Aku selalu senang berinterkasi dengan orang-orang yang baru aku knal di kedai kopi. Juga menikmati segala hal yang sudah jadi bagian dari masa lalu.

Foto ini saat aku singgah di Belitung. Kedai kopi ini sudah sangat terkea. Rasa-rasanya jika ke Belitung tidak mmpir ke Kong Djie Coffee ini, tidak afdol. Kedai yang dibuka sejak 1943, lebih tua dari usia republik ini. (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Diskusi Literasi Keluarga Duta Baca Indonesia di Balai Pustaka

Sebagai Duta Baca Indonesia asal Banten, Mei 2021 kemarin sudah saya dedikasikan untuk Banten. Mulai Juni 2021, pelan-pelan, kegiatannya merambah kota lain. Kota terdekat dulu: Jakarta.

Pada Jum’at 4 Juni 2021, saya ditemani isteri berbagi tentang “literasi keluarga” dengan para sahabat di Balai Pustaka, Jakarta.

Semoga bermanfaat. Jika ingin mengundang saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025, sila kontak WA 0819 06311 007.

#dutabacaindonesia
#balaipustaka
#perpusnasRI
#golagong

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Metamorfosis, Antologi Cerpen Bukan Jiplakan

Pandemi Covid-19 membawa berkah buatku. Aku dan istriku meluncurkan Kelas Menulis Gol A Gong pada Juni 2020. Ada Kelas essay, novel best seller, dan cerpen. Hawa nafsu dari para peserta untuk segera membuat antologi cerpen atau essay kami kendalikan.

Proses riset, menulis, dan revisi harus serius dijalani para peserta. Dimulai dari premis, sinopsis, hingga bolak-balik revisi hingga final. Jika novel, outline pun ditempuh, sinopsis per-bab dibahas detail. Andai sinopsis tidak layak, kami kembalikan dan kami bimbing hingga bisa.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

“Pergilah Dari Rumah, Anakku,” Begitu Pesan Bapak Kepadaku

Bapak pernah berkata kepadaku, “Jika kamu membuat sesuatu, pasti ingin orang-orang datang dan melihat.” Bapak mencontohkan, misalnya aku melukis, lalu lukisan itu dipamerkan. Tentu aku berharap orang-orang datang ke pameran, menikmati lukisan-lukisanku. Tuhan pun begitu. Tuhan menciptakan semesta raya dengan segala isinya. Tentu Tuhan ingin karyanya dilihat olehku.

“Maka, jangan seperti katak dalam tempurung. Bertebaranlah di muka bumi. Misalnya di Serang pagi ini hujan. Nah, apakah pada waktu yang sama, di Jakarta atau Bandung, juga hujan? Untuk membuktikannya, kamu harus mendatangi kota itu. Pergilah dari rumah..,” begitu pesan Bapak.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Porterku Sayang

Sebelum Jonan jadi Direktur PT KAI, stasiun jadi tempat berburu ide cerita yang menarik. Porter, tukang nasi bungkus, tukang semir sepatu, pengemis, bahkan tukang tipu juga berseliweran. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Jika tidak punya tiket, jangan harap bisa masuk ke peron. Apalagi tidur di bangkunya, seperti yang pernah saya lakukan saat backpacking di era 1980-1990-an.

Nasib porter di stasiun masih ada, terutama di Gambir. Jika saya traveling naik kereta dan pulangnya membawa barang banyak, saya tidak khawatir. Porter selalu siap sedia membawakan barang-barang saya ke taksi. Bagi saya, porter adalah profesi. Di belakang porter ada keluarga yang harus dinafkahi. Itu sebab setiap berpergian, saya upayakan mencari porter. Profesi ini harus kita support, agar mereka tetap bersemangat bekerja.

Tapi sekarang di era Jokowi bandara Soekarno – Hatta, para porter tidak mau lagi menerima bayaran. Saya paksa juga tidak mau. Itu bagian dari pelayanan bandara, kata mereka. Di beberapa bandara setingkat provinsi, porter masih ada. Mereka sudah menyambut kita di pintu terminal kedatangan. Sisihkan sekitar Rp. 25 ribu – Rp. 50 ribu, mereka akan tersenyum bahagia. Itulah sharing ekonomi. Semoga profesi ini tidak hilang. Jika porter kita pertahankan, itu sama dengan kita mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5