Essay: Belajar Kepada Ki Hadjar

Oleh Anas Al Lubab – Wartawan golagongkreatif.com

Suatu siang di tahun 1913. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) terlihat gusar. Ia merasa jengkel sekaligus geram mendapati prilaku orang-orang Belanda yang meminta iuran kepada rakyat pribumi untuk mendanai perayaan kemerdekaan Belanda atas jajahan Prancis. Sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar (Diantaranya: Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara) tangannya merasa gatal. Ia pun buru-buru meraih mesin tik dan menuliskan kekesalannya. Beberapa hari kemudian tulisannya yang berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” atau “Als ik een Nederlander was” dimuat di surat kabar De Expres pimpinan Dowes Dekker, dan menggemparkan khalayak. Berikut adalah penggalan penyataan Ki Hadjar tersebut,


“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Atas pernyataan tegas Ki Hadjar ini membuat para petinggi Belanda—Gubernur Jenderal Idenburg—kebakaran jenggot pirangnya. akibat tulisannya, lelaki kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889 ini, harus menanggung pengasingan—awalnya ditempatkan di pulau Bangka kemudian dipindahkan bersama pembelanya; Dowes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke Belanda. Ketiga tokoh inilah yang kemudian kita kenal sebagai tokoh “tiga serangkai”.

Pada saat itu Ki Hadjar Dewantara berusia 24 tahun.
Lalu apa yang Ki Hadjar lakukan di tempat pengasingan? Pengasingan tak membuat Ki Hadjar lesu darah, jiwa mudanya tetap menggelegak. Ia pun aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia mulai merintis cita-citanya demi memajukan kaum pribumi dengan tekun menggumuli ilmu pendidikan—ia menelaah pemikiran berbagai tokoh pendidikan seperti Froebel, Montessori, Santiniketan, dan Tagore—hingga menggondol Europeesche Akte, ijazah pendidikan bergengsi yang kelak menjadi pijakannya dalam mendirikan Taman Siswa.

Itulah penggalan kisah hidup Ki Hadjar Dewantara sebelum mengelola Taman Siswa. Seorang pemberani inilah yang kemudian membuat slogan atau falsafah pendidikan yang begitu menyejarah yakni; ing ngarsa sung tulada (di depan memberikan teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun daya cipta—memaksimalkan potensi), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan atau motivasi).

Itulah tiga falsafah yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara melalui Perguruan Taman Siswa, yang merupakan cikal bakal pendidikan Indonesia. Taman Siswa merupakan bentuk lain perlawanan yang dilakukan oleh Ki Hadjar untuk melawan sistem kolonialisme yang banyak melakukan gerakan penjajahannya melalui kurikulum yang diterapkan di bangku-bangku sekolah, Ki Hadjar percaya bahwa pendidikan bukan saja turut mencerdaskan generasi muda tetapi juga turut membangun semangat nasionalisme.

Memperingati Hari Pendidikan Nasional berarti mengenang peran sosok teladan Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. perubahan nama menjadi Ki Hadjar Dewantara bukan tanpa alasan, namun merupakan bagian dari komitmen Ki Hadjar terhadap keberadaan Taman Siswa. Ia berupaya melenyapkan pengagungan titel atau pangkat gelar yang mendiskriminasi kemanusiaan. Hal ini saya dengar langsung—melalui video dokumenter yang saya unduh dari Youtube—dari pernyataan Ki Hadjar saat kongres terakhir Taman Siswa pada 1956. Ia mengatakan sebagai langkah demokrasi dan menjalin kebersamaan semua titel atau gelar para guru yang masuk Taman Siswa harus dilenyapkan, sehingga di Taman Siswa hanya mengenal panggilan Ki (untuk laki-laki), Nyi (untuk perempuan yang telah bersuami), dan Ni (untuk perempuan lajang) tidak boleh ada satu orang pun yang merasa lebih tinggi derajatnya dibanding orang lain (semangat kesetaraan). Kurikukum yang diterapkannya pun berdasarkan tradisi kekeluargaan, yang memiliki persamaan hak dan wewenang dimana satu angota keluarga tidak ada yang merugikan anggota keluarga lain. dan tidak ada aturan tertulis namun semua taat dan mematuhi tradisi kekeluargaan.

Sebagai bahan refleksi di hari Pendidikan Nasional ini, ada beberapa hal yang patut kita teladani dari kisah hidup dan sikap Ki Hadjar Dewantara yang selayaknya menjadi renungan bersama.

Pertama, keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan hingga harus menerima resiko pengasingan.

Seorang pendidik harus berani menyatakan kebenaran atau menolak segala bentuk penyimpangan walaupun resiko menunggu di hadapan. Kini banyak guru yang hanya bersikap tegas ketika menuntut kenaikan pangkat dan gaji namun melupakan tanggungjawab sosialnya sebagai agent of change atau agent of control.

Kedua, sikap humanisme pendidikannya Ki Hadjar. sehingga ia rela menanggalkan sandang gelar dan menjadikan sekolahnya ibarat sebuah Taman sehingga peserta didik merasa nyaman belajar. Ini yang rupanya tak pernah kita terapkan dalam sistem pendidikan nasional. Masih banyak guru yang hanya mengejar titel dan gelar demi tumpukan materi yang sedang ia kejar sementara tugasnya sebagai pendidik kerap terabaikan; anak didik dibiarkan terlantar. Ruang-ruang kelas pun bertembok kaku jauh dari kesan menyenangkan. Sehingga otak para siswa kian hari kian bebal dibebani tekanan mental.

Ketiga, metode pendidikan yang diterapkan Ki Hadjar Dewantara. Dalam menetapkan kurikulum Ki Hadjar menggunakan tradisi kekeluargaan dimana tak ada aturan tertulis namun semua sepakat dan taat untuk menjaga komitmen.

Pada kenyataan hari ini “tradisi kekeluargaan” yang diterapkan Ki Hadjar sengaja dipelintir menjadi “sistem kekeluargaan” dimana budaya KKN menemukan ruang dan angin segar. Dan dibanyak sekolah banyak terpampang segala aturan tertulis tentang tata tertib dan kedisiplinan yang bisa dijadikan uang apabila siswa melanggar.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari Belajar pada Ki Hadjar. Wallahu alam

Safari Literasi Sumatera #8: Duta Baca Indonesia Sebarkan Virus Membaca dan Menulis pada Mahasiswa UIGM Palembang

Ahmad Wayang – Wartawan golagongkreatif.com

Palembang, golagongkreatif.com — Duta Baca Indonesia (DBI) Gol A Gong, sebarkan virus membaca dan menulis kepada puluhan mahasiswa Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) di ruang Teater kampus, Jalan Jendral Sudirman, Kecamatan Ilir Timur 1 Palembang.

Ia menceritakan tentang dirinya yang hingga titik ini diamanahi sebagai DBI merupakan dampak dari kegemarannya membaca dan menulis. “Sejak SD, ketika tangan kiri saya diamputasi pada 1974, orang tua saya mengenalkan saya pada buku, olahraga dan dongeng sehingga tubuh saya sehat dan jiwa saya kuat,” cerita Gong kepada para mahasiswa, Selasa (22/11/2022). >>> ke halaman berikutnya

Traveling: Efi Saferi Setelah Pensiun Traveling Keliling Indonesia Naik Vespa

Efi Saferi, namanya. Kelahiran Cilegon 27 Feb 1963. Dia sahabat saya sejak SMA. Bahkan pernah naik-turun truk, pick up, gerbong kereta dari Serang ke Kroya pada 1981.

Saat itu saya, Efi, dan Tato mengisi liburan SMA. Kami ingin sekali ke Yogyakarta melihat Borobudur. Dana terbatas, kami putuskan hitchhiking. Pada era 80-an belum banyak yang melakukan itu.

Efi Saferi dan saya ketika hitchhiking Serang – Yogyakarta, 1981

Hitchhiking atau yang biasa disingkat dengan hitching adalah gaya dalam melakukan perjalanan dengan cara menumpang kendaraan orang lain sehingga biaya transportasi untuk melakukan perjalanan tersebut adalah Rp 0,- alias GRATIS. Pelakunya disebut dengan hitchhiker.

Berita Literasi: Gebyar Literasi SMPN 2 Kota Serang, 1000 Siswa Membaca bersama Gol A Gong dan Donasi Buku untuk Indonesia Berjalan Lancar

Oleh Nong Sari – Guru SMP 2 Kota Serang

Rabu, 5 oktober 2022🥰 Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, hari yang tenang dan indah memeluk kami. Matahari pun sembunyi, ikut mendukung acara kami. Kebayang dong kalo matahari muncul. 1000 lebih warga sekolah berada di lapangan terbuka, heheeee. Mendung tapi untung juga nggak hujan.

Dimulai dari penyambutan siswa, sholat duha sampai acara “Gebyar Literasi Spenwa,1000 siswa membaca bersama Gol A Gong dan Donasi buku untuk Indonesia” berjalan lancar dan pecah buanget🤩 Pokoke, seruuuu! >>> ke halaman berikutnya

Surat dari Qatar: Ketika Aku Bisa Membaca Lebih Cepat, Ide Cemerlang pun Muncul

@didaytea – Kontributor golagongkreatif.com di Qatar

Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat.

Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)