Jawa Pos Group Menghancurkan Mimpi Saya Sebagai Raja Pers di Banten

Ya, bukan bermaksud sombong. Sejarah pers daerah di Banten tidak bisa lepas dari saya, Toto ST Radik, Rys Revolta, Andi Suhud, dan Maulana Wahid Fauzi (Si uzi), dan teman-teman di Cipta Muda Banten. Tentu saat itu sudah ada para wartawan senior dengan koran-koran mainstream seperti Kompas, Media Indonesia, Pos Kota, Pikiran Rakyat, Pelita, dan Sinar Harapan, dan Suara Karya.

Ketika saya mulai bekerja sebagai wartawan Tabloid HAI dan Tabloid Warta Pranuka di Kelompok Kompas Gramedia, 1989-1992, saya membaca arah zaman, bahwa suatu saat akan ada koran daerah. Itu saya buktikan.

Dengan bendera Cipta Muda Banten, kami membuat tabloid Banten Pos (1993). Ini penerbitan khusus. Wartawannya pelajar dan mahasiswa se-Banten. Saya, Toto, Andi, dan Uzi menyelenggarakan diklat jurnalistik. Agus Sandjadirdja – Ketua PWI Banten yang membuka diklat. Pelajar, pondok pesantren, dan mahasiswa yang bermimpi jadi wartawan berkumpul. Gratis.

Tapi kemudian kehadiran kami dianggap liar (tanpa SIUPP), padahal kami punya Surat Izin Penerbitan Khusus dari Departemen Penerangan – tidak dijual bebas. Akhirnya Banten Pos diproses oleh Polres Serang – tidak boleh terbit lagi di edisi keenam – kami saat itu terbit bulanan.

Monumen Daerah Banten, dibangun 1984, jadi saksi dimana saya muda sering bermimpi

Saya ingat sekali peristiwa itu. Saya ditemai Edi Ipenk (almarhum) memenuhi panggilan Polres. Kami masuk ke ruang Kapolres. Ada seorang petugas yang menginterogasi. Satu kakinya naik ke kursi, pistol dikeluarkan dari sarungnya, dan digeletakkan di meja sehingga bunyinya menohok jiwa saya.

“Siapa yang melaporkan, bahwa tabloid Banten Pos meresahkan masyarakat, Pak?” tanya saya.

Petugas itu menyebut beberapa wartawan koran mainstream, yang ternyata teman-teman saya sediri. Petugas itu melaporkan, bahwa para wartawan senior yang biaa mendapatkan berita dari pers release merasa terganggu dengan antusiasme wartawan Banten Pos, rata-rata pelajar-mahasiswa, yang tentu masih idealis, senang hunting berita ke lapangan.

Redaksi Banten Pos di sekretariat Cipta Muda Banten, Gedung Juang 45, Alun-alun Kota Serang, didatangi beberapa polisi, agar ditutup. Teman-teman di CMB meminta saya untuk menghentikan penerbitan Banten Pos. Saya menurut saja. Saya tutup. Mimpi pun terkubur.

Setelah saya bekerja di RCTI dan dana tersedia, pada akhir 1999, paska reformasi, di setiap perjalanan bus Serang – RCTI di Kebon Jeruk , saya sering mendapat tawaran untuk bergabung di Panitia Pembentukan Provinsi Banten. Saya menolak. Bahkan saya membeikan opini, Banten belum layak jadi provinsi karena SDM-nya baru selevel jawara (dengan cara otot).

Saya memilih menghidupkan kembali semangat Pers Daerah. Saya bangkitkan lagi Cipta Muda Banten dan redaksi Banten Pos dulu. Kini kami menerbitkan majalah Meridian sebelum Banten jadi provinsi, 1999 akhir dan awal 2000. Redaksinya tetap di Gedung Juang 45. Mungkin banyak yang belum tahu, kenapa kami bisa menggunakan Gedung Juang 45. Pada 1990, sepulang dari Asian Paragames di Jepang, saya menyabet 2 emas – double dan beregu bandimon. Bupati Serang, HMA Sampoerna menghadiahi saya Gedung Juang 45 untuk digunakan sebagai pusat kegiatan anak muda. Cipta Muda Banten bermarkas di situ.

Persis ketika Banten jadi provinsi di bulan Oktober 2000, dalam perjalanan pulang ke Ciloang, saya dikejutkan oleh spanduk bertuliskan “Harian Banten, terbit harian” di pagar sebuah rumah di depan rumah dinas Gubernur – daerah Ciwaktu. Hati saya langsung hancur.

Saya stop angkutan kota. Dengan emosi yang tinggi, tapi saya ber-istighfar berkali-kali, saya ketuk pintu rumah itu. Saya diterima oleh Pemrednya – Asmianto Amin. Saya mendapatkan informasi, bahwa koran harian Banten didukung Jawa Pos Group. Semakin hancur hati saya. Apalagi ketika Redaksi Pelaksananya kekuar – dia Abdul Malik – wartawan santri Ponpes Daar el-Istiqomah Penancangan,yang terlibat di tabloid Banten Pos pada 1993. ya, Allah!

Saya harus realistis. Majalah Meridian langsung saya tutup. Jawa Pos Group tidak akan sanggup saya lawan. Saya meminta kepada mereka agar merekrut SDM majalah Meridian. Akhirnya Maulana Wahid Fauzi (Si Uzi – pernah jadi GM koran Banten Raya dan Baten Raya TV), Taufik Rohman (menggantikan Si Uzi jadi GM koran Banten Raya Pos) , Dian Veronika (kemudian jadi istri Abdul Malik), Asep GP, Rys Revolta, dan Aas Arbi Syahrostani.

Saya pulang ke rumah, berkata kepada istri saya, “Rumah Dunia kita besarkan!”

Tadinya hanya di garasi dan teras rumah, saya pindahkan ke halaman belakang rumah seluas 1000 meter persegi. Toto membangun Sanggar Sastra Serang – bekerjasama dengan Taufiq Ismail, majalah Horison, dan Ford Fondation.

Pada 2002, saya mendirikan Kelas Menulis Rumah Dunia; menunya jurnalistik, sastra, dan film. Alhamdulillah, penulis-penulis muda lahir di generasi awal ini. Endang Rukmana (boss ayam Geprek Dewek, Adkhilni Sidqi (diplomat di Saudi Arabia), Qizink La Aziva (sekarang jadi boss BantenNews.co.id), Najwa Fadia, Ibnu Adam Aviciena, dan Muhzen Den.

Tahun 2008, untuk praktik baik literasi, setelah mengundurkan dari RCTI, uang pesangon saya investasikan ke CV Gong Media Cakrawala (GMC). Saya latih generasi baru Rumah Dunia ke multi media – majalah dan TV.

Mimpi saya ingin jadi raja media di Banten masih saya rawat. Harian Banten berubah jadi Radar Banten. Dan dengan bendera GMC, kami menerbitkan tablod Kaibon (2008) dan memasok berita ke Banten TV. Pada 2006, Melahirkan talenta muda lewat ajang Banten Star – mengadopsi Indonesian Idol di RCTI.

Generas Aji Setiakarya (sekarang boss Sultan TV), RG Kedung Kaban Rolling Action), Peter Tamba, Ferry Setiawan (sekarang mnejer berita Banten Raya), Langlang Randhawa (penulis skenario Star Vision), Hilal Ahmad (Gen-Z), Ali Sobri (Kelompok Kompas Group), Harir Baldan – dari tukang gorengan, pengantar kaset berita ke Banten TV, sekarang jadi wartawan koran Banten Pos.

Setahun tabloid Kaibon terbit, edisi bulanan. Para relawan Rumah Dunia hanya bisa jadi penulis, tidak bisa jadi sales dan marketing. Akhirnya kami tutup Kaibon dan eksodus ke Banten TV. Saya jadi Asiten Menejer Banten TV.

Tahun 2010, SDM Rumah Dunia eksodus ke Banten Raya TV. Saya kembali fokus mengembangkan Rumah Dunia. Kini para relawan Rumah Dunia yang menekuni media koran dan TV semakin berkembang. Generasi baru terus bermunculan, melapis para pendahulunya di Banten dan bahkan di Indonesia.

Sekarang saya tidak sanggup bermimpi jadi raja media lagi. Jawa Pos Group yang pernah menghancurkannya jadi sahabat saya. Tidak apa-apa. Hidup memang penuh perjuangan. Saya harus realistis. Pada 2010 – 2015, Kemdikbud RI memercayai saya sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat.

Saya tetap fokus di gerakan literasi bersama para relawan Rumah Dunia. Andi Suhud di Forum Ekonomi Kreatif dan IKAPI Banten. Maulana Wahid Fauzi mengelola Kafe Mang Jaseng di Kaloran Kalimati dan Toto ST Radik sebentar lagi pensiun sebagai ASN. Sedangkan saya pada 30 April 2021, amanah baru saya emban dari Perpusnas RI, yaitu menerusan perjuangan Najwa Shihab dalam mengampanyekan budaya membaca dan menulis – yaitu sebagai Duta Baca Indonesia. Doakan, ya!

Gol A Gong -26 Agustus 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Hmmm … Saya suka membaca kisah perjalanan Mas Gong dan lingkar dekatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==