Oleh: Nuroh
Pertengahan Agustus 2024 menjadi momen yang cukup emosional bagi saya dan banyak rekan mahasiswa lainnya, ketika Game Show Clash of Champions yang diproduksi oleh Ruangguru berhasil menyita perhatian publik. Acara ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah panggung adu kecerdasan yang mempertemukan puluhan mahasiswa dari universitas ternama, baik dari dalam maupun luar negeri.
Melalui berbagai permainan unik yang menguji kemampuan matematika, spasial, hingga daya ingat. Acara ini, berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap dunia pendidikan. Dari sinilah saya mengenal sosok Xaviera Putri lebih dalam, seorang mahasiswi KAIST yang kemudian menjadi inspirasi besar melalui karyanya yang berjudul Kimchi Confessions.

Xaviera, yang akrab disapa Viera, bukan sekadar peserta biasa, ia adalah mahasiswi penerima beasiswa penuh di Korea Selatan yang mempelajari computer science dan business tech management. Jauh sebelum ia dikenal luas melalui layar kaca, saya telah mengikuti perjalanannya sebagai YouTuber yang aktif berbagi realitas kehidupan pelajar di Negeri Ginseng.
Namun, membaca Kimchi Confessions memberikan pengalaman literasi yang jauh lebih intim. Buku ini merangkum perjalanan menantang seorang perantau muda, minoritas muslimah, sekaligus hijabi yang harus bergelut dengan budaya pendidikan yang sangat kompetitif.

Saat pertama kali memegang buku ini, sampulnya seolah sudah berbicara banyak tentang karakter penulisnya yang ceria, bermental positif, dan memiliki etos kerja yang kuat. Terdiri dari delapan bab yang disusun secara runtut, Viera membawa saya menyusuri memori masa remajanya saat pertama kali menginjakkan kaki di Korea, beradaptasi dengan bahasa, hingga momen emosional saat ia memperkenalkan hijab dalam kompetisi Korean Speech Contest di hadapan sekolahnya. Setiap lembarnya memancarkan kemandirian dan keberanian seorang gadis yang selalu merasa tertantang untuk mencoba hal baru.
Sebagai pembaca yang juga sedang menempuh pendidikan tinggi, saya menemukan banyak insight yang sangat relevan, atau mungkin bisa juga disebut sebagai solusi bagi quarter life crisis anak muda. Salah satu pola pikir yang paling membekas dalam benak saya adalah prinsip, “If you want something, work for it“.

Viera mengajarkan bahwa alih-alih mengeluh tentang hasil yang berada di luar kendali manusia, kita harus fokus pada usaha yang solutif. Entah hasilnya adalah yang dimunajatkan ataupun tidak, tetap keduanya bisa diambil pelajaran. Walaupun dalam prosesnya, dihantui fakta bahwa usaha tidak memastikan keberhasilan yang diharapkan.
Saya merasa sama dengan si penulis sendiri, dibandingkan tekanan yang dirasakan untuk harus mengerahkan ekstra waktu, tenaga, juga pikiran, saya lebih takut dengan fakta bahwa semua ini belum atau tidaklah pasti.
Buku ini juga memberikan perspektif baru mengenai bagaimana seorang mahasiswa harus dinilai dari karyanya. Viera membagikan tips praktis tentang menjaga keseimbangan hidup melalui “creating day“, sebuah metode yang menurut saya sangat masuk akal untuk diterapkan oleh siapa pun yang ingin menyelaraskan antara ambisi, keterampilan, dan profesi.

Hal ini juga mengingatkan saya dengan ucapan dosen mata kuliah wajib Bahasa Indonesia di semester pertama. Beliau merupakan dosen PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) yang menyampaikan bahwa, “Mahasiswa itu dinilai dari karyanya”. Selain itu, ia mengingatkan bahwa membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang waktu, rahasianya adalah fokus pada privilese yang telah kita miliki dan memanfaatkannya dengan maksimal.
Karena comparison is endless. Setiap orang kembali dalam battle masing-masing. Memikirkan terus menerus privilese orang lain, membuat waktu terbuang sia-sia hingga akhirnya tak sempat memikirkan atau melakukan apa-apa. Kita harus mengalihkan pikiran negatif itu. Karena menjadi orang yang pengertian, tak perlu dengan menunggu sampai mereka memberi tahu bagaimana kelabunya masa lalu.
Dari segi estetika dan pengalaman membaca, Kimchi Confessions terasa seperti membaca buku harian seorang teman dekat. Bahasanya ringan, sederhana, dan mengalir. Membuat saya ikut merasakan perjuangan yang dihadapi. Keunikan lain yang sangat saya sukai adalah, adanya halaman kosong berhias ilustrasi khas Korea di setiap akhir bab.
Memberikan ruang bagi saya untuk mencurahkan tanggapan pribadi. Terdapat pula sisipan dokumentasi berupa foto asrama, hingga tangkapan layar e-mail penerimaan beasiswa. Menyulap cerita yang dituliskan, menjadi terasa sangat nyata dan menyinggung haru.

Memang, bagi mereka yang setia mengikuti konten media sosial Viera, bisa jadi akan merasa beberapa bagian buku ini merupakan pengulangan cerita. Namun, bagi saya personal, kedalaman detail yang belum dibagikan di platform digital tetap memberikan kesan mendalam, dan hanya bisa didapatkan melalui aktivitas membaca buku.
Kimchi Confessions bukan sekadar autobiografi untuk keuntungan personal, melainkan sebuah teman bagi mereka yang merasa sepi atau sedang kehilangan motivasi dalam menjemput mimpi. Buku ini selalu ingin saya baca berulang kali, karenanya saya merenungkan kembali arah hidup diri saya sendiri.
Identitas Buku
Judul Buku: Kimchi Confessions
Jenis Buku: Kumpulan Cerita
Penulis: Xaviera Putri Ardianingsih Listyo
Penerbit : GagasMedia
Terbitan Pertama: Tahun 2023
Jumlah halaman: viii + 162 Halaman
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga (P. Jawa): Rp88.000,-
ISBN: 978-623-493-260-7
Tentang Penulis:

Hai, aku Nuroh dari Pekalongan. Aku memang tidak dilahirkan dari kedua orang tua yang mempunyai tingkatan pendidikan hingga perguruan tinggi. Namun, seorang teman baikku pernah mengira jikalau aku lahir dari rahim perempuan seorang guru. Karena apa? Karena aku yang gemar membaca. Karena ibu yang tak segan membelikanku banyak buku cerita di setiap pasar bulanan yang ada di desa, karena ibu yang memberiku buku harian saat kelas 2 SD untuk tempatku berbagi cerita. Ibu, pemberian dan kasih sayangmu, kini tumbuh apik hingga aku dewasa, aku berharap selamanya. Membaca bukan untuk menjadi yang paling tahu, namun sadar bahwa ketidaktahuan jauh lebih tak terbatas.
Instagram: @memodji_

RAK BUKU adalah resensi buku tayang 2 minggu sekali. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku


