Gol A Gong Membeberkan Rahasia Menulisnya

Catatan Ringan Tentang Buku “Rahasia Penulis” oleh Agus Helfi Rahman

“Menulislah dengan pintu tertutup, lalu menulis ulanglah dengan pintu terbuka. Hasil karyamu mulanya memang hanya untukmu. Tapi kemudian keluar menjadi milik siapa saja yang ingin membaca atau mengkritiknya.”

— Stephen King —

(Dalam Gola Gong, Rahasia Penulis, Beranda 2019)

Live IG Sahabat Balada Si Roy

Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang-orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini.

Serang, 1988 Pengarang

Saat ini proses pre-production film ‘Balada Si Roy’ sudah dimulai. Kisah petualangan anak muda karya Gol A Gong yang dimuat secara serial di Majalah Hai pada akhir 80-an itu ternyata harus menempuh perjalanan puluhan tahun hingga (akhirnya) diangkat ke layar lebar.

Kini, para pembaca awal serial BSR rata-rata telah berkepala empat, sudah beranak pinak, bahkan Majalah Hai tempat serial itu dimuat pun sudah almarhum!Lantas, apakah kisah ‘Balada Si Roy’ masih relevan dengan kehidupan generasi muda Indonesia saat ini?

Nyalakan dulu Zippo-mu. Tring! (IDN Pictures)

Pisang Goreng Relawan Rumah Dunia

Pagi yang indah. Biasanya Tias Tatanka menyuguhi saya sarapan jus atau nasi goreng dengan sedikit ratapan, “Please, Beb…” Tapi Jum’at pagi ini, 11 Desember 2020, saya yang baru saja memijit tombol “on”, mau melanjutkan penulisan novel Balada Si Roy: Spider, prekual di Bandung, sebelum Roy pindah ke Serang, Hilman Lemri muncul di jendela, “Sarapan, Mas…”

Hilman masuk ke ruang kerja saya lewat pintu rahasia. Dia membawa sepiring pisang goreng yang dibuatnya sendiri. Dia relawan Rumah Dunia yang sukses secara akademis, S2 FIKOM UNPAD Bandung. Setelah lulus sertifikasi editor, dia ditarik Firman Venayaksa jadi editor di Untirta Press.

Sekarang Hilman sedang merencanakan mencari tempat tinggal, memberikan kamarnya kepada relawan baru. Masya Allah, memang beda ya kalau yang udah punya rencana mau nikah mah. (GG)

Kopi Jahe Pagi-pagi di Ende

Saya selalu menyenangi suasana pagi jika sedang berada di sebuah kota, yang baru saya datangi. Seperti di Ende, 30 November – 2 Desember 2019. Saya datang ke Ende diundang Nila Tanzil, menghadiri Festival Literasi Ende – perayaan ulang tahun ke-10 Taman Bacaan Pelangi. Di hari pertama, saya meminjam motor Hotel Lancar, tempat saya menginap. Saya menuju Rumah Pengasingan Bung Karno, ke Pasar Bawah menikmati kope jahe Ende, ke dermaga, dan ke Ende kotaku. Di perempatan jalan, ada jejeran pertokoan tua, pintunya masih dari kayu, paling seitar 20 toko. Kata mereka, ini adalah pertokoan pertama di Ende, berbarengan dengan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Mas Kawin Perpustakaan dan Keliling Dunia

Saat menikah tahun 1996, saya berjanji memberi Tias Tatanka mas kawin “membangun perputaakaan” dan “keliling dunia”. Sombong amat! Tapi, bismillah. “Dicicil!” janji saya. Dua puluh empat tahun kemudian, alhamdulillah, sudah 10 negara saya bayar; Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, India, Qatar, UEA, Saudi Arabia, Hong Kong, dan Korea. Semoga kami dibrei kesehatan dan rezeki oleh Allah SWT. Foto ini saat kami di Hong Kong. Dan tentu, traveling sambil nulis buku. Eits, memberi pelatihan menulis di komunitas Indonesia! Alhamdulillah, dapat makan gratis. Kadang dihonori juga. (GG)

Cerpen Kismin, Eh, Miskin Karya Lilo Rohili`

Saya tertegun membaca cerpen “Kismin” karya Lilo Rohili, yang terhimpun di kumcer anti korupsi Peti Mayat Koruptor (Gong Publishing, Maret 2020). Saya jadi teringat Hamsad Rangkuti dan Ahmad Tohari. Di sastra kontekstual, cerpen ini memenuhi kriteria yang dipermasalahkan Arief Budiman. Cerpen ini justru jadi memiliki nilai universal. Ia bisa menembus ruang dan waktu. Cerpen ini bisa dinikmati oleh semua orang di dunia. Bisa diterjemahkan ke dalam seluruh bahasa yang ada di muka bumi.