Fiksi Mini: Email Dewan

Doni merapikan foto kopi KK, KTP, dan kartu nikah ke map hijau. Farhan menatapnya curiga.

Burhan meletakkan segepok uang di meja, “Lima juta!”

“Sepuluh juta, Abah!” Doni mengingatkan.

“Abah ingin nama imelnya ‘jawara’, ya! Supaya semua orang di internet takut sama Abah!“ Burhan alias si Abah, berdiri dan bertolak pinggang.

“Asiaaaap, Abah!” Doni memasukkan segepok uang bertuliskan Rp. 5 juta ke tas kecilnya.

“Tunggu, ya! Abah ambil uang sisanya!” Burhan masuk ke kamar.

Farhan berbisik, “Jadi, bikin email bayar sepuluh juta dan berkas-berkas itu termasuk persyaratannya?”

Doni menahan tawa.

“Dasar timses sialan kamu!” Farhan menggelengkan kepalanya.

“Begitulah kualitas anggota dewan kita. Tidak makan sekolahan, cuma bermodalkan uang saja. Sebelum dia nipu kita nanti buat balik modal, kita tipu dulu dia!”

(Gol A Gong/Foto medcom.id)

Wartawan Tabloid Warta Pramuka

Foto ini koleksi Museum Literasi Gol A Gong di Serang, Banten. Saya waktu itu jadi wartawan Tabloid Warta Pramuka, 1990. Masih di bawah asuhan raja tabloid Arswendo Atmowiloto. Awalnya saya ditawari bergabung di majalah HAI oleh Mbak Retno (Pemred HAI). Tapi saya butuh tantangan dan mmeilih bergabung di Tabloid Warta Pramuka, yang digadang-gadang oplahnya 2,5 juta eksemplar setiap terbit mingguan. Tabloid Warta Pramuka bekrejasama dengan Kwarnas Pramuka hingga ke Kwarda, Kwarcab, dan Kwarran. Di foto ini narasumbernya Novia Kolopaking, yang sedang nge-top sebagai pemain sinetron TV berjudul “Siti Nurbaya”, berpasangan dengahn Sandi Nayoan. Novia sekarang jadi istri Emha Ainun Najib.

Cerita Pendek di Era Digital

Pandemi Covid-19 melahirkan cara hidup “new normal”. Sudah lazim sekarang orang-orang menggunakan masker dan menjaga jarak. Bahkan tidak lagi bertemu untuk melakukan pekerjaan yang sifatnya kolektif. Semuanya berpindah ke internet. Begitu juga dunia sastra. Para penulis segala jenis sastra di Indonesia “eksodus” ke online; mulai dari Kelas Menulis Online, Komunitas Menulis online, Pelatihan Menulis, Pembacaan Puisi, Bedah Buku, hingga Peluncuran Buku.

Ketika Bercermin, Aku Baru Sadar Berlengan Satu

Tangan kiri saya diamputasi pada usia 11 tahun, kelas 4 di SDL XI Kota Serang, Banten. Kata Bapak, “Kamu harus baca buku dan olahraga. Dengan melakukan dua hal itu, kamu akan lupa bahwa kamu memiliki kekurangan.” Alhamdulillah, saya mengikuti anjuran Bapak dan memetik hasilnya selagi hidup. Surga itu sudah Allah berikan kepada saya selagi masih hidup. Semoga di akhirat pun saya mendapatkannya.

Jadi ridho Allah itu ridho orang tua, betul sekali. Di olahraga Badminton, saya bersaing dengan pebulutangkis berlengan dua. Saya pemain kedua di SMA jika ada pertndingan antar sekolah. Saat di FASA UNPAD Bandung pun, saya tim kampus dan single pertama. untuk atlet cacat, saya pernah menyabet 3 emas untuk single, double, dan beregu badminton di Fespic Games (sekarang Asian Para Games), Solo, 1985. Di Kobe, Jepang (1989) menyabet 2 emas untuk double dan beregu, serta 1 perunggu untuk single badminton. Berarti sudah 5 kali menerek bendera merah putih lebih tinggi dari bendera negara lain.

Roy Itu Bandel, Melindungi, dan Petualang

Remaja Roy itu bandel, melindungi, dan petualang. Itulah karakter “Roy”, tokoh fiksi di novel serial Balada Si Roy, yang dianggap masih relevan dengan situasi dan kondisi zaman sekarang. Tiga hal penting yang mencerminkan tentang jati diri “Roy” terungkap saat IDN Pictures live IG bersama Gol A Gong, Jum’at 27 Novmber 2020, pukul 15.30 WIB di akun IG @filmbaladasiroy.

Gol A Gong menjelaskan, bahwa yang dimaksud bandel itu ibarat mesin tua, dia tahan banting, teguh pada pendirian, selalu berjuang keras untuk mewujudkan impiannya. Anak-anak sekarang itu instan, ingin segalanya serba cepat terhidang. Roy mengnalkan, bahwa tidak penting hasil tapi proses yang kita lalui yang akan mnentukan hasilnya.

Penghargaan Novel Anti Korupsi Gol A Gong dari KPK: Surat dari Bapak

Dua Mentri di Indonesia pada November 2020 ditangkap KPK karena korupsi. Miris! Apa yang harus kita lakukan? Gol A Gong – pendiri Rumah Dunia, menulis novel pertama kali tahun 1988, yaitu Balada Si Roy (Gramedia). Gong sudah membahas tentang bahaya korupsi lewat tokoh “Roy”. Novel ini nanti akan diproduksi jadi film oleh Fajar Nugros dengan bendera IDN Pictures Januari 2021

“Banten jadi sarang koruptor!” kata Gong. “Saya mendapatkan inspirasi menulis novel Surat dari Bapak yang diterbitkan Puspa Swara pada 2016. Di novel ini saya membahas tentang korupsi. Tokoh utamanya seorang ayah yang menjabat sebagai Kepala Sekolah. Dia menyalahgunakan wewenangnya. Dana BOS dia sunat. Ketika KPK menangkapnya, keluarga terkena dampak dari pemberitaan negatif itu.,” Gong membeberkan.

Gong Traveling, Traveling Sambil Nulis Buku

Gong Traveling sudah lama vacum. Hampir setiap minggu saya dan beberapa relawan Rumah Dunia pulang-pergi ke Singapura, jadi tour guide. Gong Traveling menawarkan “traveling sambil nulis buku” sejak 2014 hingga 2018. Di foto ini, Jawaharlal Nehru (1889 – 1964), sahabat Bung Karno dari India. Mereka mengukir sejarah dunia di Konfrensi Asia Africa, Bandung 1955.

Saya senang berfoto di Esplanade Park, Singpura, sambil dudu-duduk memandangi perahu wisata Sungai Singapura. Tidak jauh dari sana, suara riuh para wisatawan dari Merlion terdengar. Tentu saya kangen traveling, seperti biasa. Semoga 2021, pandemi Covid-19 hilang!