Generasi Pertama Warga Belajar Rumah Dunia

Foto ini adalah generasi pertama warga belajar Rumah Dunia, 2002. Beberapa sudah menikah, memiliki anak, bekerja, atau jadi ibu rumah tangga. Tapi mereka memiliki ketrampilan menulis dan jiwa kerelawanan. Kamu, yang mana?

Ya Allah, itu duduk paling kanan – teteh Nabila Nurkhalishah – putri sulung kami yang kuliah di Sun Yat Sen University, Ghuangzhou. Teteh Nabila relawan pertama dan termuda bersama adiknya – Gabriel yang sejak 2012 sekolah di Abu Dhabi.

#rumahdunia #sejarah #banten

Pertandingan Persahabatan Badminton di Papua

Saya membuka-buka album lama di Museum Literasi Gol A Gong. Saya menemukan foto ini, 1987. Itu foto saya bersama PBSI Jayapura. Jika sekarang saya traveling sambil memberi pelatihan menulis, sebelum jadi Gol A Gong di bawah tahun 1990, saya traveling sambil bertanding persahabatan.

Saat itu saya masih aktif badminton. Bahkan pada 1989 masih ikut Fespic Gamesi (Asian Para Games) di Kobe, Jepang untuk cabang badminton. Saya juara bertahan sebelumnya di Solo (1985) untuk semua kategori; single, double, dan berebu. Tiga emas! Di Jepang, saya menyabet 2 emas; double dan beregu. Single juara ketiga. Dengan modal itu, saya traveling menjelajahi Indonesia.

Saat traveling sepanjang 1985 – 87 Di hampir setiap kota besar, saya menyelenggarakan pertandingan eksebishi badminton dengan PBSI setempat. Tentu lawan bertandingnya pebulutangkis berlengan dua. Pengalaman yang luar biasa. (GG)

Anda Jadi Penulis, Saya Histeris

Karya pertama saya yang dimuat di media massa adalah puisi, di Majalah HAI tahun 1981 (kelas 2 SMA). Kemudian saya kuliah di Fakultas Sastra UNPAD, mempelajari teorinya sambil riset lapangan dengan cara traveling dan riset pustaka mendatangi toko buku, lapak buku, perpustakana kota, dan tentu membaca di rumah.

Pada 8 Maret 1988, episode “Joe” dari serial “Balada Si Roy” dimuat di majalah HAI. Kemudian diterbitkan jadi buku oleh Gramedia pada 1989. Balada Si Roy disinetronkan Indika Entertainment (2002) dengan pemeran Ari Sihasale dan tayang di TV3 Malaysia. Novel saya yang lain juga disinetronkan seperti Padamu Aku Bersimpuh (Dar! Mizan, 2002) tayagn di RCTI, TPI, La Tivi, dan TV 3 Malaysia, serta Al Bahri (As Syamil, 2000) tayang di TV 7.

Ayo, Warga Kota Serang Ikut Main di Film Balada Si Roy!

Dibutuhkan pemain film Balada si Roy, dengan kriteria sebagai berikut: -Berdomisili disekitaran Serang. – Pria usia 22 – 30th – Wanita usia 22 – 30th – Bapak 2 & Ibu2 usia 30-40 tahun – Jawara /Sesepuh usia 40-60 tahun

Semua Karakter jangan Gendut. Kirimkan foto closeup tampak samping, depan. Kirimkan video Perkenalan dengan kreasi gaya sendiri durasi max 1 menit. Audio harus jelas dan gambar video harus terang.

Isi biodata mulai dari Nama, Usia, Tinggi Badan, Berat Badan, dan No Hp. Kirim video, foto dan biodata ke no WhatsApp 087789757790 paling lambat 10 Desember 2020. Bagi yang terpilih akan kami hubungi paling lambat 30 Desember (yang tidak dihubungi berarti tidak terpilih)

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Flash Fiction di GolAGong TV

Masih inget lomba menulis flash fiction yang diselenggarakan oleh Kelas Menulis Gol A Gong dan Laz Harfa Banten, bekerjasama dengan portal keren kurungbuka.com dan Rumah Dunia? Ingat, dong! Selama 2 bulan terkumpul 100-an peserta. PadaMinggu 7 Desember 2020 pukul 13:00 sudah diumumkan di GolAGong TV, link : https://www.youtube.com/watch?v=1A0J-oafgpE&t=146s . Happy Monday, ya! Selamat beraktivitas. Kepada yang kalah jangan berkecil hati. Doakan kami bisa menyelenggarakan lagi lomba menulis.

Karakter Tokoh “Raka” di “Lelaki di Tanah Perawan” Tidak Sempurna

Corona untuk sebagian orang petaka, untuk sekolompok lain jadi alat membunuh lawan politik, untuk pengusaha jadi (peluang) ladang bisnis, untuk filantropi jalan berlomba-lomba amal kebaikan, dan bagi saya yang penulis adalah trigger atau pemicu meledakkan ide di kepala. Maka jadilah novel Lelaki di Tanah Perawan.

Di novel Lelaki di Tanah Perawan yang saya garap sejak 20 Maret 2020 ini mengambil setting saat ini, dimana politik identitas, Corona, humman trafficking, klenik, tradisi-modernisasi, sesajen, dan politik uang di Pilkada merajalela.

Karakter tokoh utamanya diluar kebiasaan saya. Biasanya macho, ganteng, disukai perempuan, kali ini saya keluar dari kebiasaan itu. Saya mencoba tokohnya kaya tapi jadul, anak Mama, berkacamata karena kutu buku, digital native, sarjana ekonomi, sok pemberani  padahal deg-degan, anak bawang, jarang gaul, dan tidak punya pengalaman pada wanita. Jika memiliki keinginan, memang harus ia dapatkan. Tiba-tiba saja dia menginginkan Ratih – teman kuliahnya berbeda kasta, jadi calon istrinya.

Tiga Menguak Tabir Banten

Gol A Gong, Toto ST Radik, dan Rys Revolta sudah berteman sejak di SMPN 2 (1979) dan SMAN 1 (1982) Kota Serang. Mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun peradaban baru di Banten lewat membaca dan menulis. Mereka bermimpi membangun tempat berkumpul anak muda Banten. Ini seperti kredo yang Toto tulis: simpan golokmu, asah penamu. Setelah lulus SMA, mereka berpencar.

Mereka berkumpul lagi setelah novel Gong yang berjudul Balada Si Roy (1988) dimuat bersambung di Majalah HAI. ketiganya meninggalkan bangku kuliah. Gong kabur dari FASA Indonsia UNPAD Bandung, Toto hengkang dari STKS Bandung, juga Rys mabal dari FASA Perancis UNPAD Bandung. Mereka terinspirasi Ajip Rosidi, yang memilih tidak meneruskan ujian di SMA. Mereka membangun Komunitas AzetA (1989). Menerbitkan buku puisi “Jejak Tiga” dengan mesin stensilan. Berlanjut ke penerbitan Tabloid Banten Pos bersama Maulana Wahid Fauzi, dan Andi Suhud.