Bentuk-bentuk Pengingkaran terhadap Allah (Atheisme)
Tanpa kita sadari banyak hal yang bisa melupakan kita akan eksistensi Allah, seiring perkembangan ilmu dan teknologi yang begitu memudahkan dan memanjakan hidup kita, banyak dari kita seolah tak lagi membutuhkan-Nya.

Menyadari kecenderungan hal itu, kang Abik mengajak kita merenungi jenis-jenis Atheisme, siapa tahu diri kita menganut salah satu paham atheisme secara tak kita sadari. Dengan gamblang kang Abik menjelaskan jenis-jenis Atheis yang dijelaskan oleh Ayyas saat hendak meruntuhkan paham Atheisme Viktor Murasov yang begitu menyombongkan diri saat seminar tema Tuhan. Bagi Manusia di Era Modern yakni Atheisme Materialisme, Atheisme Psikologi, Atheisme Marxisme, Atheisme Eksistensialisme dan Atheisme Neo Positivisme.(h.329) Namun sengaja kang Abik tak membahas dua jenis atheisme yang terakhir disebutkan agar pembaca mencarinya sendiri.

Atheisme materialisme menurut kang Abik ada sejak zaman Nabi Muhammad dan mencuat kembali pada abad ke-17 dan abad ke-19. Tokoh yang terkenal adalah Karl Vogt, Huxely, Lamettra. Karl Vogt pernah berkata, otaklah yang melahirkan kehidupan ini. Otak melahirkan pikiran sebagaimana ginjal melahirkan air seni. Maksudnya, tidak ada wujud selain daripada materi. Tuhan bukan materi, kata Vogt, jadi ia tidak ada. (h.331) Apakah kita termasuk atheisme jenis ini, jika hidup kita lebih disibukkan oleh urusan materi?
Atheisme Psikologi. Atheisme ini dipopulerkan oleh Sigmund freud dan Ludwig van Feuerback. Agama menurut Freud dan Feuerback hanyalah cerminan keinginan manusia. Eksistensi Tuhan dianggap sebagai hasrat kekanak-kanakan, saat manusia telah memiliki ilmu dan kekuasaan, Tuhan tak lagi dibutuhkan. Ibarat anak kecil yang membutuhkan bantuan orang tuanya dimasa kecil setelah tumbuh besar orang tuanya pun tak lagi dibutuhkannya. Itulah citra Tuhan yang digambarkan Freud (h.332) Apakah kita hanya mengakui Tuhan saat kita butuh dan lemah seperti yang disindir Freud?

Atheisme Marxisme, Atheisme ini penggabungan Atheisme Materialisme dan Atheisme Psikologi yang digaungkan oleh Karl Marx. Karl Marx menyatakan agama hanya candu bagi masyarakat, surga dan neraka hanya imajinasi manusia dan itu hanya membuat manusia sulit berkembang, semestinya surga kita raih di dunia ini dengan segala kekuasaan yang kita miliki. Dunia bagi Marxisme adalah segala-galanya tak ada lagi hidup setelah mati begitulah kurang lebih pemikiran kaum Marxisme (h. 333) ini menjadi teguran bagi para koruptor yang tak pernah kenyang. Sejatinya kalian adalah atheisme marxisme yang termasuk dosa besar dan keluar dari Islam.
Setelah menjelaskan sejarah para penentang Tuhan tersebut dengan jelas dan rasional melalui tokohnya Ayyas, kang Abik meruntuhkan semua paham pengingkaran terhadap Tuhan tersebut dengan dalil seterang matahari.


