Topi Laken Saat Traveling

Topi laken kegemaranku sejak dulu. Saya tidak hendak meniru Sujiwo Tejo. Tidak. Sejak 1980-an, saya sudah memakai topi laken setiap traveling. Saya merasa gagah dan keren setiap memakai topi laken. Tentu ini karena keseringan menonton film cowboy Hollywood. Paling saya sesali sekarang adalah ketika saya di Papua pada 1987. Saya mendapat hadiah topi laken dari Kapolres Jayapura setelah pertandingan persahabatan badminton dengan pemain dari PBSI Jayapura. Topi laken itu sempat saya pakai ke SWamena, Sulawesi, hingga Kalimantan. Sepulang dari traveling, saya sempat mmeakai topi laken itu ke Baduy. Kemudian topi itu dipinjam kawan saya an tidak kembali lagi. Semua kenangan bersama topi laken itu hilang… (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Topi Laken Menguatkan Jiwa

Tanpa sadar, saya ini selalu memikirkan penampilan. Selalu ingin kelihatan modis, keren, dan berbeda. Saya tidak peduli pantas atau tidak. Fashionable, apakah itu tepat? Saya rasa keinginan saya ini juga keingan semua orang: ketika difoto ingin kelihatan keren. Nah, topi laken dan sarung adalah perpaduan yang asik, menurut saya.

Topi laken memang identik dengan cowboy. Dan cowboy berarti laki-laki. Saya sudah memakai topi laken sejak era 1980-an. Saya pernah memiliki banyak topi laken walaupun sekarang tinggal 2 buah. Pernah diberi hadiah topi laken oleh Kapolres Jayapura tahun 1987 dan hadiah dari Jauza Imani – penyair dari Lampung pada 2019. Keduanya raib dipinjam dan tidak kembali.

Topi laken yang saya pakai di foot ini dibeli saat Ogun (pendaki gunung dan penyintas kanker) meluncurkan buku biografinya di Senayan, tahun 2015? Lupa saya. Saat itu saya bersama Daniel Mahendra dan Zhiebriel Ababil. (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5