Hidup Itu Penuh Resiko

Keesokan harinya, di sore yang sama, datanglah Salam. Dia berjingkrak-jingkrak. “Alhamdulillah! Bisnisku berhasil! Sukses!”

Aku panggil istriku. Aku mita tolong istriku membuatkan segelas kopi lagi untuk Salam. Sepanjang sore hingga sebelum maghrib, aku menjadi pendengar setia atas keberhasilan bisnis Salam

Kemudian saya berkata kepada istriku, “Aku tidak pernah mengalami perasan sedih seperti Rudi dan gembira seperti Salam.”

Istriku tersenyum, “Itu karena kamu tidak pernah punya cita-cita. Kamu tidak pernah berani mengambil resiko apa pun dalam hidup. Kamu sudah cukup puas dengan apa yang kamu punya. Kita makan dari panen sawah yang kamu tanam, tanpa pernah kamu mau menjualnya ke pasar dengan meningkatkan produksi. Begitu juga dengan telur dan daging ayam.”

Aku merenungkan apa yang dikatakan istriku. Aku pernah membaca di buku-buku sukses dalam berbisnis. Bahwa hanya ada 2 resiko bisnis yang kita terima, yaitu sukses dan gagal. Tapi, jika kita tidak berbisnis, maka hanya ada satu resiko yang kita peroleh, yaitu : gagal.

Kata seorang filsuf Yunani, “Hanya orang yang tidak memiliki cita-cita yang tidak pernah kecewa!”

Berarti aku harus mulai punya cita-cita setinggi langit, agar kalau pun aku gagal, aku jatuh di antara bintang-bintang. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)