Pram, di luar jagat sastra, tetaplah manusia biasa. Seorang kakek yang serius sekaligus penuh canda. Gemar tertawa, tapi juga mudah lupa. Setiap aku baru bangun tidur, ia selalu berseru, “Ngopi dulu, Bung!”

Tanpa banyak bicara dan masih terhuyug-huyung, aku pun pergi ke dapur. Rupanya Ibu Maemunah―istri Pram, sudah membuatkan kopi panas untukku. Maka, agenda rutin kami saban pagi adalah duduk berdua di teras rumah sembari ngobrol soal apa saja. Setelah bosan merokok dan matahari mulai meninggi, kami pun sarapan.

Sehabis mandi dan siap bekerja, kulihat Pram sudah terlentang di karpet ruang tamu dengan mulut menganga. Menyisakan dengkuran keras yang mampu mengalahkan suara gergaji mesin sekalipun. Saat sore tiba, kami pergi ke ladang. Ia membakar sampah, sementara aku cuma duduk menonton sembari membakar rokok. Dan malam pun kami tutup dengan duduk-duduk berdua di bawah pohon nangka sambil mengudap pisang goreng.

Please follow and like us:
error37
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia