Sufi Kampung

Mang Safei alias Mang Pei , penampilannya memang seperti ODG. Rambutnya gondrong mengarah ke gimbal karena tidak pernah keramas. Kulit badannya penuh daki, hitam dan tubuhnya bau. Kalau berpakaian mengenakan kaos lusuh, celana pendek lusuh, topi pak tani, kadang jas dan dasi lusuh milik kakaknya yang kini jadi anggota dewan di kotanya. Anehnya, dia selalu konsosten membawa-bawa sapu. Kalau ditanya untuk apa itu sapu? Jawabannya: untuk membersihkan kampung dari orang-orang munafik.

Mang Safei sering berkeliaran di komplek. Berhenti di depan rumah jika penghuninya sedang berada di luar. Dia kadang mengatakan hal aneh tapi kemudian jadi kenyataan. Misalnya suatu hari dia berhenti di pintu pagar rumahku. Dia menunjuk papaya gandul setengah matang di pohon. Dia mengatakan, bahwa papaya setengah matang itu isinya motor.

Aku tentu tertawa. Tapi tidak berapa lama datang seorang lelaki yang berani menukar papaya setengah matang itu dengan sepeda motor, karena isterinya sedang ngidam papaya gandul yang tumbuh di halaman rumahku. Aku kini sedang duduk di sadel motornya.

Pak Awang dan Pak Salam muncul di ujung jalanan, bergabung dengan 4 remaja tanggung ke pemakaman kampung. Mereka pernah bercerita kepadaku, bahwa apa yang dikatakan Mang Pei terkesan sembarangan, tapi kemudian menjadi kenyataan.

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)