Literasi Anti Korupsi di Rumah Dunia

SALAM

Misalnya, suatu hari di sore yang panas ada seorang ibu yang mengantar anaknya mengambil jambu batu. Biasanya istri suka kesal, karena mereka tidak kulo nuwun. Saya biasanya menenangkan istri saya. Kemudian saya mengajak mereka bercakap-cakap, bahwa jika masuk ke rumah orang harus mengucapkan salam. Begitu juga anak-anak kecil, yang menganggap areal halaman belakang seperti tidak bertuan. Mereka mengambili apa saja yang ada di halaman belakang.

Atau tiba-tiba ada warga kampung yang mengambil daun pisang untuk membungkus nasi uduk, memetik daun arem untuk anaknya yang sakit. Atau tiba-tiba ada yang buang air besar di sudut yang masih dipenuhi alang-alang. Mengenang itu semua sekarang, saya dan istri kadang berlinang air mata. Pada hakekatnya mereka warga yang baik. Mereka hanya tidak berpendidikan dan miskin saja, sehingga tidak memahani apa itu etika, yang sering dipermasalahkan oleh orang berpendidikan seperti kami.

Pernah saya memergoki, seorang anak bermain di “istana mainan Rumah Dunia”. Mainan plastik koleksi anak-anak kami sengaja disimpan di sana untuk memancing mereka, agar mau membaca. Beberapa anak diam-diam melempar mainan itu ke seberang tembok, ke luar areal Rumah Dunia. Nanti teman-temannya yang lain mengambili. Atau mereka mengambili perkakas dapur yang mereka anggap sudah rusak untuk dijual di lapak barang rongsokan. Itu sekitar 1998 – 2004.

Kami sudah sepakat untuk tidak memarahi mereka. Kami melakukan pendekatan secara sosiologis kepada mereka. Beberapa dari mereka mengatakan, bahwa pohon-pohon yang ada di areal belakang rumah kami itu mereka yang menanam. Kami menawarkan ganti rugi kepada mereka. Tidak banyak. Tergantung pohonnya. Mereka sangat senang. Ada beberapa rumah yang gentengnya ke halaman kami, sehingga kalau hujan jadi seperti air terjun, kami anggap sebagai berkah cadangan air di areal rumah kami. Semuanya kami syukuri.

Setiap sore, terutama istri saya, mendongeng kepada anak-sanak. Di setiap cerita, selalu ditanamkan nilai-nilai kesopanan. Kalau masuk ke rumah orang harus mengucapkan, “Assalammualaikum…”.

Kami juga memberi tahu, jika mengambil sesuatu dari rumah orang lain namanya mencuri. Jika si pemilik rumah memiliki barang yang banyak, bisa saja dipinjamkan. Jika meminjam berarti harus dikembalikan. Setelah itu, beberapa anak – diantar ibunya, mengembalikan mainan anak-anak kami.

Kemudian setelah itu, banyak orang tua yang datang meminta buah mangga jika panen dengan mengucap “assalamualaikum”; buah seri, pepaya dan daun pisang. Bayangkan, ketika buah pepaya yang kami tunggu-tunggu mateng, tiba-tiba ada satu-dua warga datang meminta? Kita yang terbiasa hidup di kota atau di perumahan – cenderung individual, tentu membutuhkan adaptasi. Tapi, kearifan budaya (gotong-royong dan bertetangga) ini pelan-pelan kami akrabi. Budaya berbagi, sepanjang mampu, kami coba lakukan. Ini betul-betul indah.

Please follow and like us:
error3
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)