Literasi Anti Korupsi di Rumah Dunia

POLITIK VS PENA

          Sudah rahasia umum, Banten termasuk wilayah ketiga terkorup setelah Papua dan Riau. Politik dinastilah yang menyuburkan praktik KKN. Setiap pilkada Banten, masyarakatnya permisif dengan politik uang. Situasi sosial-politik itulah yang membuat kami bersatu memeranginya. Kami teguh dengan : katakan tidak untuk korupsi.

          Kami head to head dengan politik dinasti. Kami melawan pemerintah daerah yang korup dengan pena. Kami menolak membuat proposal kegiatan. Kami menolak menerima dana hibah. Kenapa? Karena sangat politis dan koruptif sekali. Di buku “Dinasti Banten” yang ditulis Ade Irawan dkk dari ICW, sekitar Rp. 29 milyar dana hibah digelontorkan gubernur Banten kepada lembaga-lembaga yang dipimpin oleh ayah, anak, menantu, paman, ibu, bibik, dan suami. Bahkan ada banyak lembaga fiktif. Kami menolak berada di lingkaran itu, tentu dengan resiko dana kegiatan harus berhemat.

Saya dari awal sudah mewanti-wanti, bahwa di Rumah Dunia bukan unuk tujuan mencari materi. Kami adalah para pelayan bagi siapa saja yang datang ke Rumah Dunia untuk belajar. Kami juga donaturnya. Kami ajari mereka cara mencari uang lewat menulis di media massa. Kami dan para relawan sepakat menyisihkan honorarium antara 25%-50% untuk kas Rumah Dunia.Justru materi yang kita miliki disumbangkan ke Rumah Dunia. Ada yang menyumbang materi, pikiran,  dan tenaga. Tapi, kami tidak kehabisan akal. Kami mencari dana untuk kegiatan Rumah Dunia dengan cara-cara kreatif.

Sebelum mencari dana, di dalam membuat komunitas itu kita harus memikirkan: basecamp (sekretariat), SDM, program dan jejaring. Basecamp kami punya. Areal seluas 3000 M2  jadi ukuran kepercayaan orang-orang. Kami mudah dicari. Kami tidak tercerai-berai – insya Allah, karena tahu harus berkumpul di mana. SDM, alhamdulillah, para relawan datang berganti. Sekarang sudah memasuki periode keempat, tahun ke 16. Setiap 5 tahun, ketua Rumah Dunia secara musyawarah dan mufakat harus diganti.

Kemudian program dan jejaring. Ini sangat penting. Kami punya program unggulan penulisan cerpen  atau essay. Cerpen-cerpen dari peserta kelas menulis (sekarang sudah angkatan ke-28) diseleksi dan dipilih. Sepuluh terbaik dikumpulkan dan dikirim ke penerbit. Royaltinya 50% disumbangkan ke Rumah Dunia.

Semuanya transparan.

Nah, selebihnya kita berdiskusi.

***

*) Dipaparkan di Literasi Anti Korupsi – KPK, Pekanbaru, Riau, 7 – 9 Desember 2016

Please follow and like us:
error3
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)