Cinta dan Gerakan Reformasi (6)

Kulihat di sebelahku, ada anak baru yang merangkak melewati kolong meja dan dibawah kaki para panitia. Kudengar mereka dibentak-bentak sambil ada yang diludahi.

“Gila ini acara Ospeknya. Mahasiswa baru diperlakukan keji seperti itu”, batinku dalam hati sambil menuju kamar mandi untuk mencukur kumisku sendiri karena perintah panitia.

Lukisan Heri H Harris

“Cepat, jangan lama-lama di dalam. Segera bergabung dengan anak-anak baru lainnya!,” Teriak panitia Tatib sambil menggedor pintu kamar mandi beberapa menit kemudian.

Aku merasa kesal diperlakukan demikian. Tapi aku tidak bisa melawan. Karena mereka banyakan. Seandainya dia sendiri, akan kuhajar dia. Ini namanya perpeloncoan.

Aku bergegas keluar. Tiba-tiba aku ditarik keluar paksa menuju lorong kampus yang lampunya tidak begitu terang dan berbau asap rokok dari para panitia.

Lukisan Heri H Harris

Sore itu memang hari yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa baru. Beberapa diantaranya kena bogem mentah. Ada yang dipaksa untuk minum air bekas para panitia. Aku lihat mereka seperti kesetanan menghajar anak-anak baru. Ada seperti bau ganja menyeruak dilorong-lorong kelas.

Para mahasiswa baru berjumlah 2500-an lalu dikumpulkan ke lapangan parkir kampus dengan mengenakan aneka souvenir yang dibawa. Mengenakan kalung berisi cabe dan bawang, kaos kaki beda warna, membawa kursi duduk terbuat dari karton, papan nama dan tetek bengek lainnya.

lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

Aku memang tidak menjadi sasaran kesurupan panitia tatib. Aku berusaha tenang dan tidak panik. Mungkin lantaran itu, pantia tatib sungkan untuk memperlonco aku. Apalagi sejak aku memutuskan tinggal di masjid kampus sejak hari pertama dan mulai kenal dengan para mahasiswa senior, aku merasa punya backing kalau nanti terjadi apa-apa denganku.

“Iya antum tinggal di masjid kampus saja. Ada beberapa mahasiswa tingkat atas yang tinggal. Ada disediakan tempat untuk beristirahat atau sekedar masak mie instan dan kopi. Letaknya di balik mimbar masjid, ada lorong yang dijadikan tempat untuk tidur dan menaruh barang pribadi”, Kata Kang Shod yang saat mendaftar sudah menawariku untuk tinggal di masjid.

lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

“Iya Kang, saya jadi tinggal di masjid untuk sementara waktu. Nanti sambil cari kost-kostan,” kataku padanya sambil mengucapkan terima kasih.

Sudah 5 hari aku menetap di masjid Al Asyari Unisba. Lokasinya di lantai 2 menyatu dengan gedung lainnya. Di lantai bawah dijadikan aula untuk pusat kegiatan kampus, bisa seminar nasional, wisuda dan bahkan sebagai tempat resepsi pernikahan. Aku kadang menjadi muadzin pada waktu tertentu dan ikut membantu membersihkan lantai masjid meski sudah ada petugas khusus kebersihan.

Kalau malam hari, suhu terasa sangat dingin. Dengan berbantalkan tumpukan koran, aku tidur bersama dengan 2 atau 3 orang pengurus masjid yang semuanya mahasiswa tingkat atas. Tidak ada kasur hanya berlantaikan karpet dan juga tanpa selimut.

lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

Bila datang malam pun, suasana terasa sepi karena di kampus sudah tak ada kegiatan apapun. Hanya ada petugas satpam yang berjaga. Di ruangan yang dijadikan tempat beristirahat, aku hanya bisa duduk sambil membaca koran harian sambil sesekali menonton televisi.

Setiap malam, aku merasa kedinginan. Sehingga pada waktu-waktu selanjutnya, jari tangan dan kaki menjadi mengelupas dan mengeluarkan darah dan nanah karena disebabkan alergi dingin, dan akan terasa perih bila terkena air.

Bersambung ke bagian 7

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)