Traveling: Bogoh ka Bogor

Selain memotret pohon tertua dan terbesar di jalan ini yang memiliki jalinan surai yang lebih rumit dari beban hidup kita, spot spesial yang ingin saya tangkap adalah plang penunjuk arah DPMPTSP.

Untuk kedua hal itulah saya berjalan kaki. Sangat sering saya melintasi jalan ini dengan berkendaraan. Setiap lewat, selalu penasaran dengan plang ajaib ini. Ajaib menurut saya. Sebuah plang penunjuk lokasi, tetapi nama lokasinya sangat tidak jelas. Lebih dari lima huruf, huruf mati semua. Apa yang diharapkan pembuat nama jika nama ini tidak memberi gambaran apa-apa kepada yang membacanya (=saya)?

Hari ini, kepenasaranan saya terjawab. Ternyata, di bawah ketujuh huruf mati tersebut tertulis kepanjangannya dengan ukuran yang lebih kecil. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Problem solved.

Lalu, secara tidak sengaja, saya mendapat kebahagiaan lain. Di depan gedung BCA, ada berderet warung makanan. Warung paling ujung menjual aneka gorengan dengan harga variatif. Paling murah comro, @ Rp1.500. Lainnya, ada yang Rp2.000 s.d. Rp3.000 per buah. Heran juga mengapa comro paling murah, padahal menurut saya membuat comro membutuhkan effort lebih. Memarut singkong, memarut kelapa, mengolah oncom, membentuk, lalu menggoreng.

Saya sering mencoba comro di banyak penjual dan sejauh ini belum menemukan comro yang saya inginkan. Comro itu fitrahnya pedas. Dan, saya suka yang bagian luarnya kenyal lembut, tidak krispi. Demi apa, comro yang saya beli ini memenuhi semua kriteria saya tentang definisi comro enak! Akhirnya pencarian comro enak di Bogor bertahun-tahun berakhir dengan membahagiakan. *

Please follow and like us:
error18
fb-share-icon0
Tweet 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)