Saat membacanya, seolah saya sedang membaca gagasan-gagasan besar tokoh di Indonesia. Bung Karno dan Muh. Hatta bisa memerdekakan Indonesia dari penjajahan karena gagasan-gagasannya dituliskan sehingga para penjajah merasa penting memenjarakan mereka.
Ada gelegak ingin melihat Indonesia yang kita cintai ini maju di dunia literasi ketika kalimat-kalimat di buku ini memenuhi kepala saya. Ada perasaan membuncah dan menggelegak seperti ombak di dada ketika saya memaknai kata demi kata di buku ini.
Sungguh saya tidak menyangka buah pikiran penulis di buku ini menghipnotis saya. Buku ini bukan sekadar “mimpi besar” si penulis, tapi juga saya sebagai pembaca sekaligus orang yang bergerak di dunia literasi. Betapa kekuatan mimpi – the power of dream – menjadi semacam filosofi si penulis.
***
Pertama kali saya mengenal Pak Adin – begitu saya memanggil – sebagai Ketua Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Perpusnas RI pada April 2021, saat pandemi Covid-19 merajalela. Ketika orang-orang menjadi “generasi rebahan” dan “bingung mau melakukan apa”, justru Pak Adin menyeret saya ke tingkat perjuangan literasi yang lebih tinggi lagi.
“Kami memilih Pak Gol A Gong jadi Duta Baca Indonesia periode 2021-2025, menggantikan Najwa Shihab,” begitu katanya.
Saya awalnya menduga, ini pasti “prank”. Siapalah saya. Jadi Duta Baca Indonesia (DBI) itu harus memiliki karisma dan tentu public figure seperti Tantowi Yahya, Andi F Noya, dan Najwa Shihab. Saya memiliki banyak kekurangan dan tidak sempurna. Pak Adin yang murah senyum dan sering bercanda meyakinkan saya, bahwa penetapan saya sebagai DBI itu serius.
Luar biasa Bang Adin dan sungguh luar biasa juga resensi Mas Gol A Gong, selamat buat mas Adin dan sukses selalu, saya sekarang lagi nulis fiksi mini Mas Gol, maaf ya baru tahapan belajar walaupun sebelumnya saya sudah pernah menulis cerpen, pentigraf puisi tiga bait juga beberapa artikel yang hanya bungkam dalam folder, sekali lagi dengan Membaca kita semakin berdaya dan berenergi menembus tepian dunia.