Perpusnas RI mencoba menyelenggarakan bimbingan teknis untuk para pustakawannya. Saya sering jadi narasumber. Sekarang pustakawan tidak hanya mengurusi katalog saja, tapi juga harus menulis dan membuat program literasi yang inovatif.

Kedua: akses ke perpustakaan yang sulit. Anggapan itu sedang diupayakan teratasi oleh Perpusnas RI. Saya sudah banyak mendatangi gedung-gdung perpustakaan yang megah dan trendi di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Sedangkan di Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, dan Papua terus digenjot pembangunannya. Muhammad Syarief Bando sebagai Kepala Perpusnas RI terus mendorong pembangunan gedung perpustakaan ddari Dana Alokasi Khusus ini.

Ketiga: distribusi buku tidak merata. Ini memang dilematis. Urusannya ada di jasa pengiriman. Jika harga bensin di Indonesia Timur bisa disamakan dengan harga di Jawa, mestinya harga buku juga bisa. Saya sebagai Duta Baca Indonesia bekerjasama dengan Angkasa Pura II dan Titipan Kilat Serang dalam program “Hibah Buku Nusantara”. Buku-bukunya sumbangan dari sahabat sesama penulis, Gramedia, Elex Media Momputindo,SIP Publishing, Gong Publishing, Mizan, AgroMedia, dan Zikrul Hakim.

Soal buku ini, amati saja di medsos. Buku-buku baru diterbitkan oleh platform digital, penerbit besar, penerbit komunitas, juga penerbitan rumahan. Buku-buku dijual pre order, dan ujung-ujungnya dicetak kertas. Jangan kaget juga ketika difilmkan ke layar lebar!

Ayo, singsingkan lengan bajumu untuk gerakan literasi di Indonesa! Kita adalah bangsa yang besar dan memiliki banyak aksara dan talenta di bidang literasi.

Gol A Gong

Please follow and like us:
error53
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia