Dulu pebulutangkis kita banyak yang bertebaran di negeri orang, sebagai pelatih atau pindah kewarganegaraan, lho. Kita bangga karena ekspor pebulutangkis sukses. Tidak ada yang nyinyir, kecuali menyebut mereka tidak nasionalis. Alasan pebulutangkis yang hengkang ke luar negeri, “Setelah pensiun, siapa yang menjamin hidup kami?” Kini negeri kita gonjang-gonjang perihal naturalisasi di sepakbola.

Saat kecil, kita kagum kepada Simon Tahamata, Daniel Sahuleka. Kemudian De Jong, Roy Makaay, van bronckhorst, dan Raja Nainggolan. Kita berandai-andai, mereka main membela timnas. Kita harus coba metode naturalisasi ini. Anggap saja benchmark. Di badminton malah ada istilah “digendong”.

Foto montage internet

Nikmati dulu kemenangan ini. Skor 4-0, hahahay. STY masih memasukkan Egy, Witan, Hokky, Asnawi, Ridho, dan kipernya Erlando dari liga 1 (pemain asli pribumi, hahahaha). Kombinasi. Benchmark. Mereka itu memiliki darah Indonesia dari nenek-kakek dan ayah-ibu mereka. Tentu mereka punya kesempatan yang sama dengan kita untuk membela Indonesia. Ini akan memotivasi anak-anak muda Indonesia generasi berikutnya untuk meningkatkan skill mereka dalam bermain sepakbola. Kita doakan di Juni 2024, timnas Indonesia melawan Iraq seri dan membantai Philiphine.

Saya yakin metode naturalisasi ini tidak akan membuat sepakbola kita hancur. Justru sebelum Erick Thohir jadi Ketua Umum PSSI sekarang, sepakbola kita sudah hancur. Setiap hari yang kita dengar adalah suap, sepakbola gajah, pengaturan skor. Justru iklim kompetisi jadi sehat, ketimbang ngomongin pengaturan skor, suap.

Indra Sjafri, pelatih kelompok umur sepakbola Indonsia sangat mendukung. Bahkan dialah yang mengawalinya. Kata Indra,”Saya sendiri, dua tahun yang lalu, orang pertama yang mencari pemain-pemain ke Belanda seperti Ivar, Justin, dan lain sebagainya.” Indra yakin, naturalisasi ini metode yang diramu Erick dan coach Shin Tae-yong untuk meningkatkan kualitas sepakbola kita. Lihat saja permainan mereka saat di Piala Asia melawan Iraq dan Australia. Lihat saja saat membantai Vietnam. Sepakbola Indonsia naik kelas.

Semoga PSSI terus komitmen, kontinu, dan konsisten memperbaikin kualitas timnas. Kemudian beranjak ke liga 1, dan regenerasi pemain di kompetisi kelompok umur.

Kita harus berterima kasih kepada Jay Idzes (9), Ragnar Oratmangoen (23), dan Ramadhan Sananta (90+8) yang mencetak gol. Mereka membawa Timnas Indonesia memperlebar peluang mereka untuk lolos ke putaran ketiga kualifikasiSekarang kita do’akan mereka agar menang melawan Philiphine dan seri dengan Iraq.

Jay Idsez berkata secara serius, “Saya bukan orang luar yang membela Indonesia, tapi saya orang Indonesia yang pulang untuk membela negara Indonesia.”

Gol A Gong

Please follow and like us:
error37
fb-share-icon0
Tweet 5

ditulis oleh

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia