Setelah jalan-jalan ke Gunung Agung dekat Kwitang, saya balik ke Cikini, tidak lagi jalan kaki tapi menggunakan bajaj untuk sebuah pengalaman kecil merasakan Jakarta. Saya pikir bajaj harus tetap ada di kota besar seperti Jakarta karena dengan bajaj bisa menjadi daya tarik wisata untuk menjelajahi Jakarta dari sudut pandang yang berbeda.



Pagi itu, 8 Agustus 2025, saya bertemu janji dengan Alia Silooy, seorang guru muda yang juga seorang seniman. Bagaimana kami bisa bertemu? Kami dipertemukan tahun lalu bersama seniman muda lain pada agenda Aktor Partisipatif yang diadakan oleh Lab Teater Ciputat II bekerja sama dengan pemerintah, yakni MTN.



Singkat cerita, kami berencana bertemu untuk saling bercerita dan mendengar. Sebagai yang lebih dulu melihat beberapa pameran Djakarta Teater Platform, saya mengajak Alia untuk mengunjungi Galeri Cipta 1, tempat diselenggarakannya Pameran Arsip Sidang Artistik. Alia tampak terkesima dan takjub akan pameran arsip ini—sebuah catatan sejarah langka yang mungkin akan terkubur pelan-pelan—tentang sejarah perlawanan para seniman, juga sejarah tentang Taman Ismail Marzuki itu sendiri.



Setelah itu, kami mencoba mengunjungi pameran lain di Galeri Cipta 2. Ada bergelantungan banyak origami yang tak sekadar origami, tapi juga bentuk empati pada nilai-nilai kemanusiaan.
Setelah kami duduk santai di ruang panitia acara, kami berbincang dengan beberapa teman; ada Ading dan Wulan. Setelahnya, kami berpisah dengan janji akan kembali bertemu pada pertunjukan malam harinya.
Silaturahmi Kreatif
Semoga ada rencana-rencana yang bisa diwujudkan.



