Semuanya diselesaikan oleh Tuhan. Segala upaya sudah dilakukan Teh Pipiet untuk terus menajamkan penanya, menghasilkan karya-karya berikutnya yang sudah ratusan.
Obituari Pipiet Senja: Diselesaikan oleh Tuhan

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Semuanya diselesaikan oleh Tuhan. Segala upaya sudah dilakukan Teh Pipiet untuk terus menajamkan penanya, menghasilkan karya-karya berikutnya yang sudah ratusan.

Resensi mendalam atas novel Haji Murad karya Leo Tolstoy, yang dibaca sebagai obituari estetik bagi pejuang Chechnya. M. Syifaurrahman menyoroti pergulatan batin tokoh utama, kritik Tolstoy terhadap perang, serta jejak pemikiran spiritual sang penulis Rusia terhadap Islam.

Beliau membersamai pertumbuhan anak-anaknya sebagai relawan di Rumah Dunia dengan ikut juga menjadi relawan.

Tak akan ada lagi penutup percakapan semacam, “Gitu ya, Bu! Tengkyu, Bu. Yuk, yuk, assalaamu’alaikum.”
Selamat mendiami tempat nyaman, Om. Selamat menunggu panggilan memasuki Jannah dengan tenang.
Al Fatihah untuk Abdul Salam bin H Husni. Allahummaghfirlahuu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu

Momen yang paling diingat bagi saya tentang Bang Salam, saat menang lomba video pendek juara 3 se-Kota Serang. Beliau tampak semangat mendorong saya untuk naik ke podium.

Terimakasih banyak om Salam, atas semua ilmu yang telah diberikan kepada aku. Tanpamu, aku tidak akan bisa jadi seorang mahasiswa film. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga kebaikan beliau bisa menjadi jalan menuju pintu surga

Bang Salam, di hari kau disalatkan, aku melihat istrimu Dio dan buah hatimu Ozora berdiri di pelataran Masjid, menunggu jamaah lain selesai membacakan doa untukmu. Air Mataku tak bisa kubendung, aku tak bisa berbuat apa-apa, kukecup kening Ozora, anak tampan yang akan meneruskan perjuangan ayahnya di Rumah Dunia.

Kalaupun aku diminta untuk bersaksi, aku tidak sanggup. Aku juga bingung kesaksian atas peristiwa dan kenangan mana yang harus kuceritakan. Tidak ada peristiwa istimewa saat kita bersama. Aku pernah pergi ke laut bersamamu, aku pernah pergi ke hutan, ke bukit, ke pulau juga ke pasar juga bersamamu. Semuanya tidak ada yang istimewa, semuanya sangat istimewa.

Salah satu kenangan paling membekas adalah kebiasaan Abdul Salam menolong orang lemah. Ia pernah memborong dagangan seorang pedagang tua yang sepi pembeli, lalu membagikan dagangan itu kepada kami. Ketika saya bertanya mengapa ia melakukannya, ia hanya menjawab, “Biar bapak/ibunya cepat pulang dan istirahat.”

Saat melihat lihat kembali album di fb, ternyata Salam adalah relawan Rumah Dunia yang fotonya paling banyak di jepretan saya. Ya Robb, duka ini rasanya begitu dalam. Duka kehilangan seorang guru, seorang teman yang hangat.

Kakang tidak pernah tahu akhir dari perjuangan kita di tempat ini. Tapi ketahuilah, di tempat ini kita pernah menangis bersama, bergandengan tangan bersama dan doa bersama. Kakang bangga dengan istrimu, yang sangat tabah dan kuat mengurusmu tanpa pulang sekalipun dari tempat ini.

Salam sangat semangat dan meyakinkan kalau novel saya akan selamat sampai tujuan. Padahal saya tau dia belum tidur. Tapi matanya terus menyala, memeriksa bus dan nomor serinya. Hingga kemudian, “Itu busnya, Kang!” Alhamdulillah. Novel KML pun selamat. Salam pun istirahat. Selamat tidur, Abdul Salam.

Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, di tahun 2017 lalu adalah orang yang paling berjasa dalam penerbitan buku puisi tunggal pertama saya, “Hujan Kau Selalu Begitu”, mulai dari editor, pembuatan cover, diskusi ini itu, hingga buku diluncurkan dan di bedah di Rumah Dunia, Serang, Banten, dalam rangkaian perayaan Hari Buku Dunia.

Saya belum memiliki prestasi apa-apa di Rumah Dunia. Abdul Salam yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam komunitas Rumah Dunia.

Kini, bersama gerimis tanpa jarak dan waktu, aku hanya bisa melangitkan doa-doa terbaik, untukmu dan seluruh keluarga tercinta yang kehilanganmu, khususnya istri dan anak yang semoga diberikan ketabahan dan kesabaran atas takdir kepergianmu

Salam bergabung di Rumah Dunia sejak 2007, masih kelas 1 SMA. Alumnus Fakultas Sastra Untirta Serang. Jadi Presiden Rumah Dunia 2020-2024. Nikmati 2 puisinya!

Bang Salam selalu menemukan persepektif baru saat diskusi dengan beliau, lebih dari pada itu, saya sangat jatuh cinta dan kagum dengan cara beliau menjalani dan memaknai hidup, Sederhana dan bermakna.