Sufi Kampung

Cerpen Oleh Gol A Gong

Empat orang anak tanggung mengusung keranda menyusuri jalanan kampung. Aneh. Kok, sepi? Ke mana orang-orang? Aku meminggirkan motor. Memarkir. Mereka mengusung keranda ke pemakaman kampung.

“Siapa yang meninggal?” aku masih duduk di sadel motor.

“Mang Safei!” anak tanggung berkaos biru belel yang sedang mengusung keranda ke pemakaman kampung berteriak menjawab pertanyaanku.

Aku kaget. Mang Safei? Ke mana keluarganya? Aku langsung menyebarkan pesan ke group WA warga komplek. Berita kematian Mang Safei menyebar dengan cepat di group.

Mang Safei di kampung ini dikenal sebagai orang dengan gangguan jiwa.

“Mang Pei gila!” Begitulah orang-orang kampung memangilnya.

Cerpen: Akbar

Oleh Gol A Gong

Akbar membuka laci meja kerjanya. Amplop tebal itu masih tergolek di laci meja kerjanya. Dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tissue. Diambilnya remote AC yang tergeletak di dekat laptop dengan gambar buah apel digigit. Dipijitnya lagi, sudah mentok di angka “17”.

Dia meraih gawai yang tergeletak di meja. Buru-buru kedua jempolnya memijiti huru-huruf, “Aku mau balikin amplop dulu ke Wisnu, Bu. Pulang agak maleman, ya,” begitu pesan yang dia tulis lewat WA kepada isterinya.

Centang dua, belum biru.

Pintu diketuk.

“Masuk!”

Pintu terbuka. Sebuah kepala muncul dan terdengar suara yang bernada hati-hati, “Pulang sekarang, Pak?”

Cerpen: Sarah dan Satpam

Oleh Gol A Gong

Sarah mendorong seorang petugas laki-laki di mini market yang menarik tas jinjingnya. Tas itu terjatuh. Dua bungkus susu kotak, lima bungkus mie, dua kaleng kornet, dan tiga bungkus cemilan untuk anak kecil berceceran ke lantai. Wajah Sarah yang pucat terlindung masker, tapi kedua bola matanya begerak-gerak.

“Maliiiing!” teriak si petugas mini market memunguti makanan itu.

Sarah tidak bisa ke mana-mana, karena para pengunjung di mini market itu mengepungnya.
Puluhan pasang mata yang sedang berbelanja menancap ke hati Sarah dan suara mereka mendengung seperti majikan kepada bawahannya.

Orakadut Dibebaskan dari Penjara

Orakadut akhirnya dibebaskan dari penjara. Dia awalnya dihukum 2 tahun penjara karena terbukti memfitnah seorang koruptor berselingkuh dengan seorang artis di dalam penjara. Orakadut membocorkan permainan para sipir, yang menyewakan ruangannya untuk para napi koruptor yang ingin menyalurkan nafsu birahinya. Akhirnya Orakadut Si Gila dari Kota Golokali dibui bersama napi koruptor itu. Satu sel pula.

Anehnya, baru sebulan menjalani masa tahanan, Orakadut dibebaskan. Wartawan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Akhirnya Orakadut membuat press conference di pinggir kali, di depan rumah kardusnya persis di kolong jembatan.

Fiksi Mini: Jatuh Cinta Kepada Rudi

Rudi berdiri merapat ke tembok. Tubuhnya terhalang tanaman pucuk merah. Sejak tadi kedua matanya tidak berkedip, menatap marah kepada Toni dan Agnes, yang duduk bermesraan di sudut café. Candle night menghiasi meja mereka.

“Sekarang kamu percaya kan! Aku nggak nyebar hoax!” Yanto tersenyum.

“Aku nggak nyangka! Agnes!” Rudi mengepalkan tangan kanannya.

“Sudah! Lupakan! Masih ada aku yang mencintaimu,” Yanto meraih tangan kiri Rudi, meremasnya dengan mesra.

Rudi menepis dengan halus. “Aku mohon maaf. Tanpa bermaksud menyakitimu. Kita berteman saja, To! Sekarang aku memikirkan omongan Mama! Selama ini aku salah jalan!”

Rudi membalik, pergi, dan meninggalkan Yanto yang berdiri mematung.

– ( Gol A Gong /Gambar: news.detik.com)

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)