Literasi Anti Korupsi di Rumah Dunia

Oleh Gol  A Gong

“Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata.”

(Prasasti, 1996- 2001)

***

Di kampung saya, pernah ada anggapan : semua milik bersama. Itu terjadi ketika di awal kami menempati rumah di Kampung Ciloang, Serang – Banten tahun 1998. Kami membeli tanah kavling di Komplek Guru seluas 200 M2 untuk tempat tinggal dan sebidang tanah seluas 1000 M2 di belakang rumah untuk kegiatan literasi. Di halaman belakang itu ada pohon seri, pisang, arem, dan jambu batu yang sudah ada. Kami juga menanam pohon sirih, pepaya, mangga dan sukun. Setiap hari selalu saja ada orang masuk ke rumah lewat halaman belakang yang memang terbuka. Sebetulnya kami sudah memberi tahu, bahwa areal yang bisa dipergunakan untuk umum adalah halaman belakang saja dimana komunitas literasi Rumah Dunia kami dirikan, tapi kadang orang-orang kampung masuk ke dalam rumah lewat dapur kami yang terbuka untuk bisa diakses relawan Rumah Dunia.

Darurat Buku di Indonsia

Oleh Gol A Gong

Seorang anak kecil di Boru, Larantuka, Flores Timur, begitu antusias ketika saya beri hadiah sebuah buku karena berani bertanya kepada saya. Begitu juga seorang remaja di Kabupaten Malaka, NTT, melompat kegirangan menerima hadiah novel karya saya – Balada Si Roy – yang filmnya sebentar lagi tayang di boskop. Remaja itu berhasil menulis satu kalimat indah tentang buku: Kamu sewaktu-waktu bisa aku tinggalkan, tapi buku sampai kapanpun tidak akan pernah aku tinggalkan.

Kabar Kota Tua Kendari Setelah Jembatan Teluk Kendari Diresmikan Presiden

Saya terakhir ke Kendari tahun 2018. Saya menginap di hotel yang menghadap ke laut, tidak begitu jauh dari pelabuhan rakyat. Di kala senggang, saya menyempatkan diri ke kota tua Kendari. Pada 2015 saya pernah ke Kendari juga. Saat itu kota tua diratakan karena hendak membangun Jembatan Teluk Kendari – yang menghubungkan sisi kawasan Pelabuhan Kota Lama dengan sisi Pulau Bungkutoko di Kecamatan Poasia di Kota Kendari,  Sulawesi Tenggara.

Saya Harus Berhenti Bermimpi Jadi Aktor Teater

Saya selalu tersenyum jika melihat foto ini. Terkenang tahun 1982. Ini adalah malam inagurasi Fakultas Sastra UNPAD Bandung tahun 1982. Saya jadi sutradara sekaligus penulis naskah untuk kelompok saya. Lupa lagi nama kelompoknya. Tapi setelah itu saya berhenti bermimpi jadi aktor teater. Kenapa? Inilah yang ingin saya tuliskan, sejak lama. Ini akan terkait dengan kenapa saya kemudian memilih profesi jadi penulis.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)