Ada Salam: Obrolan Kecil di Rendezvous Cafe Rumah Dunia

Abdul Salam HS – Presiden Rumah Dunia

Hari masih terlalu pagi, tetapi seorang bapak yang usianya di atas lima puluh tahunan sudah khusyu membaca banyak koran di meja Rendezvous Café Rumah Dunia. Sebelumnya, saya tak pernah melihat, atau mengenal bapak tersebut.

“Boleh saya ikut baca korannya, Pak,” kataku.
Ia tak menanggapi kata-kataku. Tak lama kemudian ia berkata.

Hari Aksara Nasional Jatuh Pada 14 Maret

Oleh Gol A Gong – Duta Baca Indonesia 2021-2025

Sebelum memulai tulisan ini, izinkan saya mengucapkan: Selamat Hari Aksara Internasional, 8 September 1966 – 2023.

Hari Aksara Internasional berawal dari Konferensi Pemberantasan Buta Huruf di Teheran, Iran, 8-19 September 1965. Peserta konferensinya Mentri Pendidikan sedunia. Saat itu Mendikbud RI dari Kabinet Dwikora, Agustus 1964 – Maret 1966 adalah Prijono.

UNESCO mendeklarasikan tanggal 8 September 1966 sebagai peringatan Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap tahunnya di seluruh dunia.. Saat deklarasi ini, Mendikbud RI dari Kabinet Ampera Juli 1966 – Oktober 1967, Sarino Mangunprnaoto.

Pertanyaannya, “Seberapa penting memperingati Hari Aksara Internasional?”

Apakah Diam Itu Emas? Jangan Takut Mengkritik Pemimpin!

Fenomena Rocky Gerung! Kita kadang bertanya-tanya, “Kok, Rocky aman-aman saja?” Apakah omongannya berdasarkan faka dan data? Abaikan saja. Jangan jadi pikiran yang membebani kita. Doakan saja Rocky Gerung terus kritis-proporsional dan Indonesia semakin jaya serta bebas dari perilaku korupsi.

Ceren, novel dan puisi yang saya tulis berisi kritikan kepada para penguasa yang korup!

Kita juga jangan takut mengkritik pemimpin, terutama di kota kita. UUD 1945 pasal 28 melindungi kita dalam mengemukakan pendapat secara lisan dan tertulis. •Pasal 29 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia menjamin itu. Jangan lagi beranggapan “diam itu emas”. Justru “diam itu menimbun penyakit”.

Ada Salam: Dunia yang Semakin Sensitif

Abdul Salam HS – Presiden Rumah Dunia

Hari-hari ini dunia terlampau sensitif. Permasalahan kecil dalam bentuk pendapat bisa menjadi ancaman dan kekerasan yang berujung pada pecahnya silaturahmi (persaudaraan), lebih gawat lagi sampai pada urusan perang fisik. Siapakah yang akan menjadi korban, tentu saja masyarakat awam yang hanya bisa mendapatkan informasi sepihak.

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang bapak-bapak yang terlihat begitu taat dalam menjalankan ibadat. Ia berpendapat bahwa di masa pemerintahan sekarang, pemimpin kita begitu pro dengan ideologi Cina. Bentuk nyatanya banyak sekali: adanya kerjasama Indonesia dengan Cina. Pemerintah lebih mendukung organisasi kafir dibandingkan organisasi Islam. Informasi tersebut bapak dapatkan dari tempat obrolan dan pemberitaan di media massa elektronik.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)