Cerpen Sabtu: Kopi Susu Saset dan Persoalan Kecil

Kau menatap kesibukan kota London dari jendela lantai tujuh apartemenmu. Air dari teko silver yang kauseduh ke cangkir, tumpah sedikit ke punggung tanganmu. Cepat-cepat kau mengibaskannya dan kau basuh dengan air yang mancur dari bibir keran.

Rasa panas di punggung tanganmu mengingatkanmu kepada Yola. Bagimu masalahnya sangat sepele. Kau meniadakan tas belanja dari bungkus kopi saset yang telah bedah dengan membakarnya, kemudian menggantinya dengan tas belanja baru. Itu saja.

“Mama ini kebiasaan! Mentang-mentang semua bisa dibeli pakai uang!” ucap Yola ketika melihat tas itu telah hangus. Nada bicara Yola tercekat di tenggorokan. Kau lihat air mata melembungkan kantung matanya. Lalu Yola nyelonong masuk kamar.

“Mama akan belikan lagi buat kamu. Tas saset kopi dari perempuan kampung itu,” ucapmu berjanji. Sementara Yola tak membuka pintu kamarnya barang sedikit.

Sebelumnya Yola tidak pernah seperti itu. Yola anak yang baik. Semua orang sepakat kalau Yola adalah perempuan cerdas dan berjiwa sosial besar. Dia tergabung pada sebuah organisasi relawan. Rasa bangga mesti membuncah bila kau melihatnya memakai rompi relawannya. Akan tetapi, sejak Yola kembali dari tugas mengabdi di sebuah kampung pelosok kota Reyog Jawa Timur itu, kau rasa dia sedikit berubah.

Waktu itu, satu tahun sebelum covid-19 menjangkiti negara-negara di dunia, khususnya Indonesia, Yola dan sekelompok rekannya diberi tugas pengabdian pada sebuah kampung tertinggal di kota Reyog. Kampung itu dihuni oleh orang-orang istimewa di mata masyarakat umum. Sebelum keberangkatannya, kau merasakan kejanggalan yang sukar kau utarakan. Kau sangat ingin mencegah kepergian Yola, tapi kau tak punya alasan yang tepat.

Kau meninggalkan wastafel dan duduk di kursi makan. Kauusap air matamu segera. Tangan kirimu telaten mengoleskan krim luka bakar ke punggung tangan kananmu yang terpapar. Ponsel yang kau letakkan di meja masih menampilkan beranda laman pengedar berita viral instagram. Tangkapan layar threads milik akun @yolayolaa_ yang diposting oleh akun bernama @baruviral itu mendapat banyak komentar warganet. Salah satunya komentar seperti ini, “Saya juga seorang ibu yang bar-bar tapi saya masih tau etika, semoga ibu mbaknya cept sadar. Aamiin YRA.”

Saat matamu memejam, ingatan yang kau tutup rapat itu terbuka. Kau pun masuk ke dalamnya.

“Benar ini rumah Mak Sami?” ucapmu saat pintu rumah terbuka.

Nggeh?” jawab perempuan itu. Matanya lebih condong ke pundak kirimu ketika kau mengajaknya bicara.

“Saya ibunya Yola. Saya ingin membeli tas saset kopi yang Anda buat.”

Sebuah tas diberikan kepadamu kemudian, usai perempuan yang dipanggil Mak Sami itu berbasa-basi menyilakanmu masuk, tapi kautolak. Dia juga mendoakan segala ucap keselamatan. Namun kau sukar yakin. Doa orang-orang seperti Mak Sami ini bagimu, kalau tidak mengemis belas kasihan ya berusaha meraup perhatian dengan cara menjual doa dan pemujaan.

Kau tersenyum menyindir, “Tentu, Tuhan tahu yang semestinya, Bu. Namun, saya heran ya, kenapa Anda enggak nyadar diri, gitu!”

Kau menatap tubuh pendek, wajah kusam, dan lagi-lagi kau menatap matanya yang tak bisa membalas tatapan matamu dengan tepat. Kau berdecak.

“Lihat bentuk tubuh Anda. Duh amit-amit deh ini. Kerdil, jalannya pincang, lehernya nggak tegap, matanya juling. Kok bisa ngarahin Yola nggurui ibunya. Memang Anda bisa apa? Becus jadi ibu?”

Mak Sami tersenyum getir dan menunduk. Kau ingatkan kembali betapa mudah dirinya menasihatimu dalam sebuah vlog yang Yola buat.

Pada suatu daily vlog  yang diambil Yola saat masih bertugas mengabdi jadi relawan, Yola mengenalkan Mak Sami sebagai perempuan tunagrahita yang sangat cekatan menganyam tas dari saset kopi. Pada vlog  Yola, terlihat Mak Sami menganyam bungkus kopi susu saset kemasan kecil merek TOP menjadi tas belanja.

“Mama harus tiru cara Mak Sami ini sih, memanfaatkan bungkus kopi saset jadi barang berguna. Kebetulan, Mama saya suka minum kopi susu saset, Mak.”

“Namun mama saya jarang di Indonesia. Mama menjalankan bisnisnya di London dan Kuala Lumpur. Mungkin Mama bisa gunakan hari minggunya buat bikin ginian, Ma!” Yola mengarahkan kamera ke tas belanja yang nyaris jadi. Mak Sami dalam vlog itu menyeletuk, “Kalau ibunya Mbak Yola pulang, sesekali bikinlah kayak gini. Kan kalau dibuang eman. Biar deket juga sama anak perawannya, masak kerja terus.”

Kau singgung soal itu, Mak Sami menunduk dan memohon maaf.

Sekelompok tetangga samping rumah Mak Sami berbondong datang. Situasi ini bagai pertunjukan langka bagi mereka. Bisa kautebak, bagaimana isi pikiran mereka melihat perempuan kota yang necis dan wangi sepertimu. Sayangnya, mereka tak berkesempatan melihat innova reborn milikmu karena akses jalan masuk dusun yang makin menyempit. Jadi, terpaksa kautitipkan mobilmu di dekat balai desa. Jangankan mobil, kau berjalan masuk dusun itu saja begitu kerepotan. Berbekal aplikasi peta, kaulolos temukan dusun kecil yang masih sangat kuno ini. Selama berjalan kaujuga mengumpat sebab sinyal kerap putus-putus, belum lagi kauharus tepat memilih rute yang tidak terlalu licin dan becek.

 Kau mengamati mereka satu demi satu. Penampilan yang tak terurus, postur tubuh yang tak semestinya, membuatmu merasa makin jijik berada di sana. “Oh, maksud istimewa itu idiot. Kampung idiot.”

Satu perempuan berleher pendek dan bertubuh bungkuk menjambak cepal jilbabmu yang menonjol.

“Heh lepaskan!” bentakmu.

Mengingat itu, semua terasa seperti putaran video berdurasi pendek. Kau melihat percikan darah dari sudut tiang kayu rumah Mak Sami. Kau melihat perempuan bungkuk itu teriak. Kaulihat orang-orang yang berkerumun histeris. Ada yang takut dan lari, ada pula yang masih diam di tempat. Pandanganmu pada mereka mengabur. Kaupandangi dua telapak tanganmu yang kelepas batas. Keadaan itu membuatmu harus bertindak cepat. Ketika seorang ketua RT setempat datang, kau semakin cemas. Namun, rupanya kaubisa mengatasinya dengan akad antara kau dan ketua RT itu, meski tak murah seperti yang kaubayangkan. Kaupikir itu bukan masalah. Terpenting, kasus ini selesai.

Sebulan setelah kejadian, mulut sang RT yang kaupercaya terlanjur keparat. Si Bangsat menceritakan kejadian itu kepada Yola. Yola meneleponmu usai mendapat cerita dari ketua RT.

“Di mana sih, otak dan hati Mama!”

Di menit itulah hatimu terluka. Seluruh perasaanmu kalut. Kauingin membunuh sang RT detik itu juga, pun semua orang di kampung S kota Reyog. Kau dengar sendiri, mati-matian Yola membela Mak Sami.

“Aku dapat cerita dari Pak RT, waktu Mama ke sana beli tas saset kopi, Mama terlibat pertikaian dengan orang kampung itu, kan? Mama nyebut kampung mereka kampung Idiot?”

“Mama juga hina fisik mereka, untung Pak RT berbaik hati dan memaklumi ulah Mama.”

“Sekarang, Yola pingin Mama ke sana lagi. Minta maaf sama mereka.”

“Iya. Kalau Mama selesai tugas di Kuala Lumpur, Mama akan ke sana lagi, ya,” ucapmu basa-basi.

Mendengar Yola bicara hanya soal itu, kau merasa sedikit lega. Bukan tentang dahi berdarah yang RT itu ceritakan. Kau tak bisa membayangkan betapa marah Yola jika peristiwa dahi berdarah juga diketahuinya.

Setelah Yola mengakhiri panggilan, barulah kau sadar, kau memang setengah hati mengatakannya saat itu. Kau tak benar-benar akan meminta maaf. Bisa dibilang janjimu itu hanya untuk menenangkan Yola. Dan yang tak kausangka, setiap akhir pekan, Yola menanyakan kapan kaupulang dan meminta maaf pada Mak Sami lewat sebuah pesan. Demi menjaga hubungan baik seorang ibu dan anak, kau selalu saja mengalihkan obrolan. Bagimu itu hanya persoalan kecil, sehingga kau tak perlu benar-benar meluangkan waktu untuk meminta maaf di desa yang belum terjamah aspal itu. Lagipula, kau juga telah membayar mahal sang ketua RT untuk tidak membawamu ke ranah hukum mengenai kasus perundungan dan penganiayaan yang tak disengaja.

Beberapa minggu belakangan, Yola tak lagi mengirimimu pesan. Kaupikir, Yola memang sudah melupakan persoalan itu. Namun, postingan akun @baruviral yang berisi tangkapan layar cuitan akun threads @yolayolaa_ menampar keras hatimu. Anak perempuanmu itu berani membuka kesalahanmu pada publik. Isi cuitan threads Yola begini, “Salah nggak sih kalau kita kesel banget sama mama kita karena nggak mau minta maaf sama orang?”

Kau tergelitik untuk klarifikasi di kolom komentar, tapi rasanya tak mungkin. Tangkapan layar cuitan Yola sudah menyebar luas di seluruh laman berita viral Indonesia begitu kau memperbarui laman beranda instagram. Setelah @baruviral menanyangkan, disusullah @gudanggosip, @wowviral, @mediamassa, @recehparah, dan akun-akun serupa pun mengunggah cuitan itu. Tentu saja dengan komentar pedas warganet dari masing-masing akun.

Belum selesai kau membaca satu per satu komentar, pesan Yola masuk, “Mama, bulan ini pulang, kan? Mama sudah tunda semua kerjaan, kan? Mak Sami udah enggak ada, Ma. Mama nggak bisa minta maaf langsung, tapi setidaknya Mama bisa nyekar.”

“Mak Sami  … Mak Sami, ini gara-gara kau!” gerutumu.

Kau pun lekas mengetik pesan, “Anak bikin malu orang tua.” Namun, kau urungkan. Akhirnya yang kau tulis adalah, “Innalillahi wa innalillahi roji’un. Mama minta maaf bikin Yola nunggu, ya. Mama usahakan pulang bulan ini. Bener.”

Kau mengirim balasan itu kepada Yola.

“Mak Sami  … Mak Sami  …!” Kau menggerutu sambil meremas selimut tebal yang kau duduki. Luka bakar di tanganmu semakin panas (*)

TENTANG PENULIS: Mahasiswi yang lahir dan tinggal di Madiun, di Ponorogo kuliah saja. Beberapa cerpennya bisa dibaca di Lensasastra.id, Matamata.co, Cerpen_Sastra, Ngewiyak.com Bisa dihubungi di WA: 085736087636.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==