“Ayah!” seru Gagah, anakku yang berumur lima tahun. “Ada tiga bintang yang lurus banget! Apa namanya?”
Jari-jari mungilnya menunjuk langit Desember tak bermega yang menampakkan bintang-bintang yang berkelip genit menyapa. Aku mengajak Gagah berbaring di rumput halus yang mulai terasa basah.
“Tiga bintang itu namanya Alnilam, Alnitak, dan Mintaka. Mereka adalah pinggang seorang pemburu. Namanya Orion,” jawabku.
“Mana pemburunya? Gagah nggak lihat!” Dia memprotes dengan suara kanak-kanaknya yang cempreng.
Aku mengambil jari-jari tangan Gagah dan menggerak-gerakkannya seperti melukis di udara. Kutunjukkan bintang-bintang yang menjadi kepala, bahu dan kaki Orion; tak lupa juga dengan pedang dan busur panahnya.
Lalu aku menceritakan tentang kisah bintang-bintang lain : Taurus, Aldebaran, Pleiades, Scorpio, dan lainnya.
Mata Gagah tak berkejap memandang bintang-bintang sambil mendengarkanku.
“Scorpio mana, Yah?” tanya Gagah.
“Orion selalu berkejaran dengan Scorpio. Jadi, kalau Orion bisa dilihat, Scorpio nggak kelihatan. Enam bulan lqgi, kalau Gagah bisa lihat Scorpio, malah Orion yang nggak ada,” jelasku.
“Terus, kenapa bintang-bintang tadi namanya Alnilam, Alnitak? Kok, pakai bahasa Arab? Tadi kata Ayah cerita-cerita tadi dari Yunani.”
“Bangsa Yunani termasuk yang pertama mengamati pergerakan bintang. Setelah agama Islam menyebar, para ilmuwan Islam juga mempelajari bintang. Jadinya banyak bintang yang dinamakan menggunakan bahasa Arab,” jawabku.
“Minggu depan kita ke planetarium. Gagah bisa melihat Orion dengan teropong. Pasti lebih jelas. Atau, kita beli teropong,” lanjutku.
“Gagah mau ke planetarium!” serunya.
“Mas Bintang lagi di mana?” Terdengar suara istriku.
“Di sini. Di rumput.”

Kulihat istriku mendekat. Dia ikut merebahkan diri di atas rumput. Jari-jari tangannya mengusap dadaku lalu membelai rambut dan wajahku. Memghangatkan badanku yang sudah mulai menggigil.
“Ayo masuk, Mas. Sudah hampir tengah malam.”
“Sebentar. Gagah masih asyik melihat Orion.”
“Mas. Tahun lalu, seminggu sesudah Mas mengajak Gagah melihat Orion di rumput seperti ini, kalian berdua ke planetarium. Naik motor. Gagah sudah bersama Orion sekarang.”
Aku ingat kejadian yang kucoba untuk melupakan. Melalui sudut mata, aku melihat sebuah mobil melaju kencang dan melanggar lampu lalu lintas. Mobil itu menghantam sepeda motorku dari samping. Aku selamat, tapi Gagah tidak.
oOo


TENTANG PENULIS: Agus Tjahjoadi adalah seorang konsultan asuransi syariah dan praktisi hukum waris Islam. Mulai menulis pada tahun 2019 saat berusia 51 tahun. Karyanya—lebih dari 30 buah dan sebagian besar berupa cerpen—sudah diterbitkan dalam bentuk antologi bersama penulis lain oleh penerbit independen. Beberapa cerpennya menjadi pilihan editor Ellunar Publishing. Klik bit.ly/BisnisSepenuhCinta untuk menghubungi Agus.

FIKSI MINI: Hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.



