Oleh: Zaeni Boli
Latihan teater bagi kelompok yang sudah hampir sepuluh tahun berdiri semestinya bukan lagi persoalan. Namun, karena kesibukan sehari-hari yang tak mengenal dunia seni, kelompok ini—meskipun telah berkiprah selama satu dekade—masih harus menghadapi tantangan tersendiri.
Adalah Nara Teater, yang berdiri sejak tahun 2016 atau sudah sembilan tahun berjalan. Anggotanya rata-rata berprofesi sebagai pegawai negeri dan guru. Kini mereka kembali diuji lewat garapan berjudul SABADALAK, yang rencananya akan dipentaskan di Maumerelogi pada pertengahan Mei nanti.

Sebagai kelompok yang telah mapan, tuntutan keaktoran dari sang sutradara terbilang cukup tinggi. Namun, hingga tulisan ini diturunkan, para pemain belum sepenuhnya mampu menjawab ekspektasi tersebut. Masih terlihat keraguan dalam permainan para aktor—bukan semata kesalahan teknis, melainkan kebingungan dalam mencerna teks sesuai harapan sutradara.
Nara Teater, yang bermarkas di Flores Timur, adalah salah satu kelompok teater yang cukup eksis dan produktif di kawasan itu. Mereka dikenal luas di Nusantara karena sejumlah karya yang pernah dimainkan di tingkat nasional, seperti Ina Lewo, Tana Tani, dan Sade Bero.
Kali ini, Nara Teater mencoba menghidupkan kembali teks lama yang sempat dilatih pada tahun 2019, berjudul Sabadalak. Pada tahun 2025, judul ini diperpanjang menjadi Imam Sabadalak, dan naskahnya pun mengalami perombakan untuk menyesuaikan dengan konteks zaman kini.

Ada harapan tinggi agar para pemain yang terlibat kali ini mampu menghidupkan teks dan peran yang diberikan. Harapannya, pertunjukan nanti tak hanya menjadi sesuatu yang “biasa-biasa saja”. Itu semua tentu menuntut kerja keras dari setiap pemain—seperti yang mulai tampak pada latihan sore kemarin, 10 Mei 2025, di Taman Kota Larantuka.



