Kasus warga yang tewas dikeroyok massa karena diduga mencuri ternak termasuk yang “hanya” seharga seekor ayam bukan peristiwa asing di Indonesia. Beberapa kali kejadian serupa mencuat ke publik dalam satu dekade terakhir, memicu perdebatan yang sama setiap kali: tentang kemiskinan struktural yang mendorong orang pada pilihan-pilihan sempit, tentang lemahnya kepercayaan pada aparat dan sistem hukum sehingga masyarakat merasa perlu “mengadili” sendiri, dan tentang betapa cepatnya sekelompok orang berubah menjadi kekuatan yang menghilangkan nyawa hanya dalam hitungan menit.
Yang jarang menjadi sorotan adalah anak-anak yang menyaksikan peristiwa ini secara langsung atau menerima kabar duka itu di usia yang bahkan belum sanggup memahami konsep keadilan. Trauma yang mereka bawa bukan sekadar kehilangan orang tua, tetapi kehilangan itu terjadi dengan cara yang paling brutal dan paling publik: sering direkam, disebarkan, ditonton ulang.
Puisi esai ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan mencuri, juga tidak untuk menghakimi massa yang marah. Saya mengajak pembaca berhenti sejenak pada satu pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang terjadi pada sebuah masyarakat ketika hukum rimba terasa lebih cepat memberi “keadilan” daripada institusi yang seharusnya melindungi warganya, dan siapa yang paling lama menanggung akibatnya, jika bukan anak-anak yang ditinggalkan?
*Catatan: Puisi esai ini merupakan karya reflektif berdasarkan peristiwa meninggalnya seorang ayah di Bali dikeroyok massa, karena mencuri seekor ayam.

I. Rumah yang Lapar
Di gang sempit itu, bulan tak pernah penuh,
hanya potongan cahaya jatuh di atap seng
yang bocor sejak entah kapan.
Ayah adalah lelaki yang pundaknya
memikul lebih banyak dari yang sanggup ia ucapkan.
Ia bangun sebelum subuh, pulang setelah senja,
membawa upah yang tak pernah cukup
untuk menutup jarak antara lapar dan esok hari.
Di rumah itu ada satu anak,
mata yang selalu menunggu di ambang pintu,
menghitung langkah ayahnya dari jauh,
seperti menghitung apakah hari ini
akan ada nasi di atas piring.

II. Seekor Ayam
Malam itu tak ada rencana besar,
tak ada niat menjadi berita,
hanya seekor ayam
yang harganya tak sebanding
dengan apa yang harus dibayar.
Tangan yang gemetar bukan karena berani,
tapi karena takut anaknya
tidur lagi dengan perut kosong.
Kadang kemiskinan tidak bertanya
apakah kau orang baik atau bukan,
ia hanya mendorongmu ke sudut
di mana pilihan tinggal satu:
salah, atau lebih salah lagi.
III. Massa
Teriakan pertama selalu paling keras,
seperti api yang menyulut sesuatu
yang sudah lama kering.
Satu tangan terangkat,
lalu berpuluh tangan lain mengikuti,
bukan karena semua tahu duduk perkaranya,
tapi karena keramaian
punya cara membuat orang lupa
bahwa yang dipukuli adalah manusia,
bukan hanya “maling”.
Tak ada yang bertanya:
sudah makan apa keluarganya hari ini?
Tak ada yang bertanya:
siapa yang akan pulang membawa kabar ini
ke rumah dengan atap bocor itu?
Yang ada hanya amarah yang mencari sasaran,
dan sasaran itu kebetulan
adalah seorang ayah.
IV. Mata Anak Itu
Ia berdiri di antara kaki-kaki orang dewasa,
terlalu kecil untuk didengar,
terlalu kecil untuk dihentikan.
Ia memanggil, tapi suaranya
tenggelam dalam suara yang lebih besar.
Ia berlari mendekat, tapi tangan-tangan asing
mendorongnya menjauh —
“jangan lihat, Nak.”
Tapi ia sudah melihat.
Dan sejak malam itu,
matanya menyimpan sesuatu
yang tak akan pernah bisa
diajarkan lagi oleh sekolah mana pun:
bahwa keadilan bisa berubah wajah
menjadi hal paling menakutkan
yang pernah ia kenal.
V. Setelah Itu

Rumah dengan atap bocor itu
kini hanya diisi seorang anak yang menunggu,
tapi kali ini tak ada lagi
langkah kaki untuk dihitung.
Ia belajar bahwa dunia orang dewasa
kadang menghukum kelaparan
lebih keras daripada menghukum kekerasan.
Ia belajar diam-diam
menyimpan pertanyaan yang tak berani ia ucapkan:
mengapa yang mencuri untuk hidup
dihukum lebih cepat dan lebih kejam
daripada yang merampas untuk lebih kaya?
Tentang Penulis:

Penulis adalah Kolomnis dan penulis lepas di berbagai media cetak dan digital, tulisan-tulisan penulis banyak berfokus pada isu sosial dan politik. Penulis merupakan alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang dan saat ini menjalani pendidikan magister di universitas yang sama.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



